Budi Legowo

Lebih bijaksana menggunakan fasilitas “kantor”

September 23rd, 2013 by budi legowo


Membuat presentasi Power Point secara cepat

  1. Buat garis besar presentasi dalam format outline
  2. Lakukan  promote dan atau demote garis besar prsentasi menggunakan outline tools
  3. Simpan file outline yang selesai dibuat
  4. Gunakan Ribbon Quick Acces Toolbar, Send to Microsoft Office PowerPoint
  5. Secara otomatid file Word akan berubah menjadi file PowerPoint

 

Jika Send to Microsoft Office PowerPoint belum muncul di Ribbon Quick Acces Toolbar, lakukan langkah berikut

  1. Klik kanan pada Ribbon, yang terletak disudut kanan atas monitor
  2. Klik Customize Quick Acces Toolbar
  3. 3.    Pada bagian Choose Command Form pilih Command Not in the Ribbon
  4. Pilih Send to Microsoft Office PowerPoint≫Add≫OK
  5. Quick Acces Toolbar Send to Microsoft Office PowerPoint siap digunakan

 

Koneksi tampilan excel untuk presentasi

  1. Siapkan excel dalam bentuk tabel dan atau grafik
  2. Lakukan langkah sederhana Blok≫Copy≫Paste
  3. Lakukan pengaturan untuk menyesuaikan tampilan
  4. Cara ini hanya “menempel” tampilan data excel ke PowerPoint

 

Untuk koneksi data excel dalam presentasi lakukan langkah berikut

  1. Siapkan excel dalam bentuk tabel dan atau grafik
  2. Lakukan Insert≫Object≫Create form File≫Browse
  3. Pilih file excel yang datanya akan dikoneksikan, Insert
  4. Tabel dan atau grafik dalam file excel akan tertempel dalam slide PowerPoint
  5. Dengan cara di atas, jika dilakukan pengaturan (edit) dalam file excel yang terkoneksi maka secara otomatis tabel dan atau grafik dalam silde ikut berubah

 

Membuat presentasi foto

  1. Siapkan PowerPoint dan file foto yang akan dibuat presentasi
  2. Lakukan Insert≫ Photo Album>>New Photo Album
  3. Lanjutkan Insert Picture form: File/Disk
  4. Pilih foto yang akan dipresentasikan
  5. 5.    Lakukan pengaturan á, â atau Remove
  6. 6.    Lakukan pengaturan preview: rotasi, kecerahan dan kontras
  7. 7.    Jika diperlukan, lakukan pengaturan Album LayoutPicture Layout, Frame Shape dan theme
  8. 8.    Klik Create

 

Revisi Dokumen

Komentar perbaikan dokumen

  1. Tandai (blok) bagian yang akan di beri komentar
  2. ReviewNew Comment, ketik komentar pada comment box
  3. Lanjutkan untuk komentar berikut

 

Untuk perbaikan dokumen gunakan langkah berikut

  1. 1.    Sebelum melakukan perbaikan sebaiknya lakukan langkah Openpilih fileOpen as Copy
  2. Pilih Accept jika perbaikan dilakukan sesuai dengan komentar
  3. Pilih Reject jika tidak perlu perbaikan
  4. Secara otomatis perbaikan akan berpindah untuk komentar selanjutnya

 

Membandingkan dokumen yang sudah diperbaiki

  1. Untuk membandingkan dokumen asli dengan yang sudah direvisi lakukan langkah Comparebrowse Original documentbrowse Revised documentOK
  2. Lakukan pengaturan tampilan dengan klik Show Source Document
  3. Perbedaan dokumen ditandai dengan huruf warna merah (atau sesuai pengaturan yang dilakukan)

 

Melindungi dokumen

  1. Aktifkan dokumen yang akan dilindungi, dengan cara membuat dokumen baru dan atau membuka dokumen yang sudah ada.
  2. Klik Logo Word  yang ada di pojok kanan atas layar, Pilih Prepare Encript Document
  3. Masukkan password (sandi) OK
  4. Biasanya ada permintaan konfirmasi password. Ketik ulang password OK
  5. Simpan file yang sudah dilindungi
  6. Setelah melakukan langkah di atas, maka saat membuka file yang telah dilindungi akan muncul kotak dialog untuk memasukkan password, jika password  yang dimasukkan salah maka file tidak dapat dibuka.

 

Membuat template

  1. Template digunakan membuat dokumen berulang-ulang berdasarkan tata-letak dan isi yang sudah disiapkan sebelumnya. Form kosong dalam template dapat digunakan sesuai kebutuhan.
  2. Buat dokumen baru, buat format sesuai kebutuhan (form kosong: kwitansi, amplop, kop surat dll)
  3. Simpan dokumen: SaveWord DocumentWord Template
  4. Untuk menggunakan: New≫New from existing≫pilih file template yang sudah dibuat sebelumnya
  5. Lakukan perubahan isian template, simpan seperti biasa

 

Membuat daftar isi

  1. 1.    Tuliskan judul≫Enter, lanjutkan pilih Home≫Styleheading 1
  2. Klik ReferencesTable Of ContentsPada sub menu disediakan beberapa pilihan style, pilih salah satu.
  3. Catatan: daftar isi akan otomatis terisi jika dokumen dibuat dengan Multilevel list (bulleting dan atau nubering)

 

Menandai dokumen dengan objek samar

  1. Aktifkan dokumen yang akan dilindungi, dengan cara membuat dokumen baru dan atau membuka dokumen yang sudah ada.
  2. Pilih: Page LayoutWatermarkPilih format yang tersedia
  3. Atau: Page LayoutWatermarkCostum Watermark, lakukan pengaturan, misal dengan menyisipkan gambar di layar. Klik Picture WatermarkSelect picture, lakukan pengaturan lain untuk ukuran gambar (Scale) dan transparasi gambar (Washout)
  4. Objek samar akan disisipkan secara otomatis disetiap halaman

 

Menulis Arab

  1. Lakukan Add ins QuranInWordInd dengan langkah berikut
  2. Download pluginnya bisa klik disini plugin di alamat web http://www.myquran.org/msword/
  3. Install plugin tersebut di komputer
  4. Setelah terinstal muncul Add Ins Alquran Pada Toolbar Al Quran, pilih Get Arabic + Translation
  5. Secara otomatis tulisan akan “diterjemahkan” dalam huruf arabic

vidoe tutorial sedang dibuat…tunggu ya :)


Posted in Uncategorized | No Comments »

Sedikit tentang konstruktivism

March 15th, 2013 by budi legowo


Teori – Mc  Brien and Brandt

Mc Brien and Brandt mewngungkapkan bahwa konstruktivis adalah suatu pendekatan belajar berdasarkan kepada penelitian tentang bagaimana manusia belajar. Kebanyakan penelitian berpendapat setiap individu membangun pengetahuannya dan bukan hanya menerima pengetahuan dari orang lain.

Teori – Briner  

Menurut Briner,M individu yang belajar membangun pengetahuan mereka dengan menguji ide-ide dan pendekatan berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang ada, mengaplikasikannya kepada situasi baru dan mengintegrasikan pengetahuan baru yang diperoleh dengan membangun intelektual yang sebelumnya ada.

Teori – Glaserfeld

Glaserfeld mengemukakan bahwa Konstruktivis adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan itu adalah konstruksi (bentukan) diri sendiri. Pernyataan ini menegaskan bahwa pengetahuan bukanlah suatu tiruan dari kenyataan tetapi akibat dari suatu kontruksi kognitif kenyataan melalui kegiatan seseorang.

Faktor-faktor yang juga mempengaruhi proses mengkonstruksi pengetahuan adalah konstruksi pengetahuan yang telah ada, domain pengalaman, dan jaringan struktur kognitif yang dimilikinya. Proses dan hasil konstruksi pengetahuan yang telah dimiliki seseorang akan menjadi pembatas konstruksi pengetahuan yang akan datang. Pengalaman akan fenomena yang baru menjadi unsur penting dalam membentuk dan mengembangkan pengetahuan. Keterbatasan pengalaman seseorang pada suatu hal juga akan membatasi pengetahuannya akan hal tersebut. Pengetahuan yang telah dimiliki orang tersebut akan membentuk suatu jaringan struktur kognitif dalam dirinya.

 

Catatan Tambahan

Pembelajaran konstruktivis adalah suatu pendekatan proses belajar  dimana seseorang membangun pengetahuan atau konsep secara aktif, berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki sebelumnya. Dalam proses pembelajaran ini, individu yang belajar akan menyesuaikan pengetahuan yang diterimanya dengan pengetahuan sebelumnya untuk membangun pengetahuan baru.

Secara umum pembelajaran berdasarkan teori belajar konstruktivis meliputi empat tahap. adalah tahap apersepsi (mengungkapkan konsepsi awal dan membangkitkan motivasi belajar siswa), tahap eksplorasi, tahap diskusi dan penjelasan konsep, tahap pengembangan aplikasi dan Aplikasi konsep.

Prinsip pembelajaran kontruktivis yakni sebagai berikut,

1. Melakukan hubungan yang bermakna.
2. Melakukan kegiatan yang signifikan.
3. Belajar yang diatur sendiri.
4. Bekerja sama.
5. Berpikir kritis dan kreatif.
6. Mengasuh dan memelihara pribadi siswa.
7. Mencapai standar yang tinggi.
8. Menggunakan penilaian otentik

Pembelajaran yang berorientasi konstruktivis menekankan pemahaman sendiri secara aktif, kreatif dan produktif melalui proses pembelajaran yang bermakna. Pembelajaran dikatikan dengan kehidupan nyata atua masalah yang disimuliasikan. Dengan demikian pengetahuan akan keterampilan akan didapat, perilaku akan terbentuk atas kesadaran sendiri.

Pandangan konstruktivistik mengemukakan bahwa realitas ada pada pikiran seseorang. Manusia mengkonstruksi dan menginterpretasikannya berdasarkan pengalamannya. Konstruktivistik mengarahkan perhatiannya pada bagaimana seseorang mengkonstruksi pengetahuan dari pengalamannya, struktur mental, dan keyakinan yang digunakan untuk menginterpretasikan objek dan peristiwa-peristiwa. Pandangan konstruktivistik mengakui bahwa pikiran adalah instrumen penting dalam menginterpretasikan kejadian, objek, dan pandangan terhadap dunia nyata, dimana interpretasi tersebut terdiri dari pengetahuan dasar manusia secara individual.

Teori belajar konstruktivistik mengakui bahwa siswa akan dapat menginterpretasikan informasi kedalam pikirannya, hanya pada konteks pengalaman dan pengetahuan mereka sendiri, pada kebutuhan, latar belakang dan minatnya. Guru dapat membantu siswa mengkonstruksi pemahaman representasi fungsi konseptual dunia eksternal. Jika hasil belajar dikonstruksi secara individual, bagaimana mengevaluasinya?


Posted in Mulang | No Comments »

Sedikit tentang kognitivism

March 15th, 2013 by budi legowo


Teori Perkembangan (Kognitif) – Piaget

Menurut Jean Piaget, proses belajar terdiri dari tiga tahapan yaitu, asimilasi, akomodasi dan equilibrasi.  Asimilasi merupakan proses penyatuan (pengintegrasian) informasi baru ke struktur pengetahuan yang sudah dimiliki sebelumnya. Akomodasi merupakan tahap penyesuaian struktur pengetahuan dalam situasi yang baru. Sedangkan equilibrasi adalah penyesuaian berkesinambungan antara asimilasi dan akomodasi.

Selama proses asimilasi dan akomodasi, diyakini terjadi perubahan struktur pengetahuan dalam diri mahasiswa.  Proses perubahan ini ada waktunya “berhenti”. Untuk mencapai kondisi berhenti ini dibutuhkan tahap equlibrasi (penyeimbangan).  Jika proses equilibrasi berhasil baik, maka terbentuklah struktur pengetahuan baru yang meruppakan penyatuan secara harmonis antara pengetahuan lama dan pengetahuan baru.

Piaget berpendapat bahwa proses belajar harus disesuaikan dengan tahap perkembanga pengetahuan seiring perkembangan umur seseorang.  Tahap-tahap tersebut adalah, tahap Sensrimotor (1,5 sampai 2 tahun), tahap Praoperasional (2 sampai 8 tahun), tahap Operasional (8 sampai 14 tahun) dan tahap Operasional Formal (14 tahun atau lebih).  Secara umum semakin tinggi tingkat kognitif seseorang, semakin teratur cara (juga semakin abstrak) berfikirnya.

 

Teori Kognitif – Bruner

Jerome Bruner mengajukan teori yang sering disebut free discovery learning. Proses belajar akan berjalan baik dan kreatif jika dosen memberikan kesempatan pada mahasiswa untuk menemukan satu aturan (termasuk konsep, teori, definisi) melalui contoh-contoh yang menggambarkan aturan yang mencadi acuannya. Dalam hal ini mahasiswa dibimbing secara induktif untuk mendapat “kebenaran” umum.

Lawan dari proses belajar ini adalah yang disebut “belajar ekspositori” (belajar dengan cara menjelaskan). Pada kondisi ini, mahasiswa disodori sebuah informasi umumdan diminta untuk menjelaskan informasi yang diterima melalui contoh-contoh khusus dan konkret.

Teori Bruner dalam aplikasi praktis sangat membebaskan mahasiswa untuk belajar sendiri sehingga bersifat discovery learning (belajar dengan cara menemukan).  Proses belajar lebih ditentukan oleh cara pengaturan materi dan bukan ditentukan oleh umur mahasiswa.

Aplikasi teori Bruner juga menuntut pengulangan-pengulangan sehingga desain berulang ini lazim  disebut “spiral Bruner”. Pada kondisi ini matrei harus disampaikan secara bertahap dari yang sederhana menuju yang kompleks, tanpa menutup kemungkinan materi yang disampaikan terlebih dulu akan muncul kembalim secara terintegrasi sampai mahasiswa memiliki pengetahuan secara utuh.

 

 Teori Kebermaknaan – Ausubel

Menurut David Ausubel, mahasiswa akan belajar dengan baik jika ada “pengarah kemajuan” (Advance Organizer-AO) yang didefinisikan dan dipresentasikan dengan baik dan tepat pada mahasiswa. AO (dapat bersifat visaual dan atau verbal) adalah konsep atau informasi umum yang mencakup semua isi pelajaran yang akan diajarkan pada mahasiswa.

Ausubel percaya bahwa AO dapat memberi manfaat, yaitu: 1) dapat menyediakan kerangka konseptual untuk materi yang akan diajarkan, dan 2) dapat berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan antara apa yang sdang dipelajari mahasiwa saat ini dengan apa yang akan dipelajari, sehingga 3) mampu membantu mahasiswa untuk “memahami” bahan belajar secara lebih mudah.

Ausubel diaplikasikan secara deduktif (dari umum ke khusus) dengan mengedepankan struktur disiplin ilmu dalam pembentukan struktur kognitif mahasiswa.

 

Catatan Tambahan

Menurut teroi belajar kognitif, belajar adalah perubahan presepsi dan pemahaman yang tidak selalu berbentuk perubahan tingkah laku yang dapat diamati. Teori belajar ini mengasumsikan bahwa setiap individu telah memiliki pengalaman dan pengetahuan dalam dirinya.  Teori kognitif lebih mementingkan proses belajar dibanding hasil belajar itu sendiri. Belajar tidak hanya sekedar hubungan stimulus dan respon, belajar melibatkan proses berfikir yang kompleks. Pengatahuan yang dimiliki seseorang terbangun melalui proses interaksi yang berkesinambungan dengan lingkungan.

Aliran kognitif dianggap lebih dekat pada psikologi dibanding teori belajar.  Hal ini didasarkan pada kesulitan aplikasi dalam proses belajar. Seringkali struktur kognitif yang dimiliki mahasiswa tidak dapat dipilah-pilah dalam bagian-bagian diskrit.  Pada mahasiswa (orang dewasa) sulit mengidentifikasi pengetahuan yang sudah dimiliki untuk “ditambahkan” pengetahuan baru.  Identifikasi pengetahuan secara tuntas tidak cukup hanya dengan satu-dua instrumen pre-test.


Posted in Mulang | No Comments »

Sedikit tentang BEHAVIORISM

March 15th, 2013 by budi legowo


Teori Tingkah Laku –Thorndike

 Belajar merupakan proses interaksi antara stimulus  dan respon. Perubahan tingkah laku akibat interaksi stimulus dan respon bisa berwujud sesuatu (konkret/dapat diamati) atau yang tidak berwujud (non konkret/tidak teramati).

Thorndike tidak memberi penjelasan bagaimana mengukur tingkah laku yang non konkret, padahal pengukuran merupakan satu hal yang menjadi obsesi penganut aliran tingkah laku.  Meskipun demikian, teori tingkah laku Thorndike tetap menjadi inspirasi pakar lain sesudahnya.

Teori tingkah laku Thorndike dikenal juga sebagai aliran Koneksionis (Connectionism)

 

Teori Tingkah Laku – Watson

Watson berpendapat bahwa hasil interaksi stimulus dan respon harus berupa tingkah laku yang dapat diamati (observeble). Dalam hal ini perubahan mental yang mungkin terjadi dalam proses belajar dianggap sebagai faktor yang tidak perlu diketahui. Pendapat ini didasarkan pada pemahaman  bahwa faktor perubahan mental tidak dapat menunjukkan apakah proses belajar sudah terjadi atau belum.

Meskipun diakui bahwa semua aspek perubahan penting untuk dapat diamati, teori tingkah laku Watson lebih memilih untuk tidak memperhatikan hal-hal yang tidak dapat diukur.

Teori tingkah laku Watson dikenal juga sebagai aliran Tingkah Laku (Behaviorism)

 

Teori Tingkah Laku – Clark Hull

Clark Hull sangat terpengeruh oleh teori evolusi yang dikemukakan oleh Charles darwin. Teori tingkah laku Hull berasumsi bahwa semua fungsi tingkah laku bermanfaat terutama untuk menjaga kelangsungan hidup.  Dalam hal ini kebutuhan biologis dan pemuasan kebutuhan biologis menempati posisi utama.  Stimulus hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis, meskipun respon dimungkinkan bermacam-macam bentuknya.

Secara praktis teori ini tidak banyak digunakan secara praktis, tapi sering digunakan dalam berbagai eksperimen laboratorium.

 

Teori Tingkah Laku –  Edwin Guthrie

Poin penting dalam teori Edwin Guthrie adalah bahwa stimulus tidak harus berbentuk kebutuhan biologis. Hubungan stimulus dan respon cenderung bersifat sementara sehingga perlu pengulangan (sering) agar sifatnya menjadi permanen (langgeng).   Respon yang lebih kuat jika berhubungan dengan banyak stimulus.

Guthrie juga meyakini bahwa “hukuman” yang diberikan pada saat yang “tepat: dapat merubah kebiasaan seseorang.  Faktor hukuman pada akhirnya tidak lagi dominan dalam teori tingkah laku setelah ide tentang reinforcement dipopulerkan oleh Skinner.

 

Teori Tingkah Laku –  Skinner

Pada dasarnya respon yang diberikan mahasiswa dalam belajar tidaklah sesederhana seperti dalam teori Hull dan Guthrie.  Setiap stimulus yang diberikan akan berinteraksi satu sama lain, yang akhirnya mempengaruhi timbulnya respon.  Respon yang dihasilkan dari interaksi berbagai stimulus juga menghasilkan berbagai kon sekuensi, yang selanjutnya berpengaruh pada tingkah laku.

Menurut Skinner, perubahan mental untuk menjelaskan tingkah laku hanya akan membuat kerumitan tersendiri, sebab “alat” yang digunakan untuk menjelaskan tersebut juga membutuhkan penjelasan tersendiri.

Teori Skinner berkembang dalam konsep stimulus, respon dengan faktor penguatan (reinforcement).

Meskipun memiliki pandangan yang berbeda Clark Hull, Edwin Guthrie dan Skinner dianggap sebagai penggagas aliran Neo Behaviorist.

 

Catatan Tambahan

Teori tingkah laku menjadi tidak populer karena dianggap tidak mampu menjelaskan situasi belajar yang kompleks. Banyak hal dalam “proses belajar” yang tidak dapat dijelaskan hanya dengan sekedar akibat hubungan stimulus dan respon.

Seringkali teori tingkah laku tidak dapat menjelaskan alasan-alasan yang mengacaukan hubungan antara stimulus dan respon. Teori belajar tingkah laku dianggap cenderung mengarahkan mahasiswa berfikir linier, konvergen dan tidak kreatif.

Hukuman dalam pembentukan tingkah laku (teori Guthrie) tidak populer karena pengaruhnya yang bersifat sementara, berdampak buruk secara psikologis dan “terhukum” akan mencari pembenaran dengan segala cara untuk menghindari hukuman.

Skinner lebih suka menyebut hukuman dengan penguatan negatif.  Bedanya hukuman diberikan (sebagai stimulus) agar timbul respon yang (diharapkan) positif, tapi penguatan negatif lebih pada memberikan pengurangan stimulus agar respon yang sama menjadi lebih kuat. Lawan dari penguatan negatif adalah penguatan positip.  Keduanya bertujuan memperkuat respon. Namun bila penguatan positip harus “ditambah” maka penguatan negatif harus “dikurangi” agar meningkatkan respon.

 


Posted in Mulang | No Comments »

Hot Potatoes: Membuat Kuis On-line

July 18th, 2012 by budi legowo


software hotpot

Setelah beberapa waktu menggunakan versi trial, akhirnya Hot Potatoes Quiz dapat digunakan dalam full version-nya. Dengan versi penuh kita dapat mengembangan saol “digital” dengan lebih leluasa.  Sebagai perbandingan, pada versi trial, soal pilihan ganda “hanya” dapat dibuat sebanyak 5 butir soal. Sementara menggunakan versi penuh, jumlah soal yang dibuat “tidak ada”  pembatasan.

Jenis soal yang ditawarkan dalam Hot Potatoes Quiz cukup beragam. Mulai dari soal pilihan  ganda seberhana hingga yang lanjut.  Pengembangan soal essay juga dapat dilakukan dengan fasilitas yang tersedia.  Bahkan tipe soal rekreasi dalam bentuk “teka teki silang” juga dapat dibuat dengan mudah.  Variasi lain adalah pilihan mix quiz, yang memberi kesempatan pengembangan soal campuran.

Soal yang dikembangkan menggunakan Hot Potatoes Quiz dapat dintegrasikan dengan mudah dalam laman elearning berbasis moodle. Proses import data semudah attachment file saat berkirim email.  Keuntungan  lain yang dapat diperoleh dari  integrasi soal Hot Potatoes Quiz dengan moodle adalah dimungtkinkannya pengaturan banyaknya kesempatan menjawab, durasi pengerjaan dan yang lebih menarik adalah pengacakan (random) soal dan jawaban dilakukan secara otomatis dalam sistem.

berminat mencoba???

Membuat Teka Teki Silang


Posted in Dolanan, Mulang | No Comments »

VBA dalam PowerPoint

July 13th, 2012 by budi legowo


Evaluasi hasil belajar diperlukan untuk mengetahui capaian kompetensi peserta didik.  Alat ukur evaluasi hasil belajar biasa dibedakan menjadi 2, yaitu: 1) tes dan 2) non tes.  Instrument tes sering disebut tes terlulis (paper and pencil test) berdasar bentuknya dibedakan menjadi 2, yaitu: 1) uraian (subjective test) dan 2) pilihan ganda (objective test). Berdasar tujuan dan waktu pelaksanaan dapat dibedakan menjadi 3, yaitu: 1) tes formatif, 2) tes sumatif dan 3) tes diagnostik. Pengetahuan tentang validitas dan reliabilitas soal sangat dibutuhkan dalam pengembangan instrument pengukur hasil belajar peserta didik.

Pilihan Ganda dalam PowerPoint
Soal pilihan ganda atau sering disebut objective test karena pemeriksaannya dilakukan secara objektif.  Logika benar salah dalam pemeriksaan soal pilihan ganda dapat dikembangkan dalam PowerPoint menggunakan Visual Basic for Application (VBA).  Pemanfaatan aplikasi ini dapat meningkatkan interaktifitas peserta didik dengan media dalam proses pembelajaran.

1.    Script VBA
Pertama  salin script dibawah ini menggunakan aplikasi Notepad,

Dim nilai As Integer
Dim konfirmasi As String

Sub mulai()
nilai = 0
ActivePresentation.SlideShowWindow.View.Next
End Sub

Sub benar()
konfirmasi = MsgBox(“yakin dengan jawaban anda?”, vbYesNo, “Cek jawaban!”)
If konfirmasi = vbYes Then
nilai = nilai + 20
ActivePresentation.SlideShowWindow.View.Next
End If
End Sub

Sub Salah()
konfirmasi = MsgBox(“Yakin dengan jawaban anda?”, vbYesNo, “Cek jawaban!”)
If konfirmasi = vbYes Then
ActivePresentation.SlideShowWindow.View.Next
End If
End Sub

Sub skor()
ActivePresentation.SlideShowWindow.View.Next
tampilkan
End Sub

Sub tampilkan()
With ActivePresentation.Slides(8)
.Shapes(2).TextFrame.TextRange.Text = nilai
End With
End Sub

Simpan dengan nama script.bas dalam folder khusus  untuk memudahkan import script ke PowerPoint.  Manajemen file dengan melakukan pengaturan folder penyimpanan yang baik, dapat menjamin kemudahan pengembangan aplikasi yang dibuat selanjutnya.

Tutorial.

Disampaikan dalam “Pelatihan Pengemabangan Bahan Ajar Digital”

SMPIT Nur Hidayah, Surakarta (Agas, 14 Juli 2012)


Posted in Mulang | No Comments »

TRITIUM, METODE RADIOAKTIVITAS DALAM PENENTUAN UMUR AIR TANAH

May 2nd, 2011 by budi legowo


PENDAHULUAN
Metode radioaktifitas yang banyak digunakan dalam pengukuran umur air tanah adalah menggunakan isotop dengan waktu paruh yang panjang, misalnya 14C, 38Cl, 39Ar dan 81Kr untuk penanggalan umur air tanah tua (paleogroundwater). Isotop dengan umur pendek seperti, 3H, 32Si, 37Ar, 85Kr dan 222Rn digunakan untuk pengukuran umur air tanah modern[1].
Tritium di lingkungan salah satunya merupakan hasil samping operasi reaktor nuklir. Pendingin reaktor menghasilkan Tritium kurang lebih 1,850 sampai 3,700×1013 dan 5,4×1016 Bq/tahun untuk setiap 1000MWe. Secara alamiah maupun yang hasil produksi fasilitas nuklir, Tritium terdapat dalam bentuk molekul air (HTO), gas Tritium (HT) dan gas metana (CH3T) [2].
Air tanah modern merupakan air tanah yang meresap dalam kurun beberapa decade yang lalu dan aktif dalam siklus hidrogeologi. Penentuan umur air tanah menggunakan metode radioaktifitas Tritium dapat digunakan untuk melakukan analaisis daerah pengisian (recharge area), pemetaan pola gerakan air tanah dan fluktiasi musiman seperti yang pernah dilakukan di cekungan Surakarta (Solo upper basin)[3].
Sebagai salah satu isotop hidrogen yang bersifat radioaktif. Tritium, secara kimia sama dengan hidrogen yang dengan kelebihan netron dalam ini atomnya dengan waktu paruh 12,4 tahun. Secara spontan inti Tritium akan menjadi inti Helium diserta emisi radiasi beta. Segera setelah terbentuk di atmosfer, Tritium berubah menjadi molekul air melalui proses oksidasi dan mencapai permukaan bumi bersama dengan air hujan[2].
Melaluai proses infiltrasi, Tritium bersama air hujan menuju daerah jenuh menjadi air tanah tertekan. Fungsi waktu tinggal air tanah memepengaruhi aktivitas Tritium yang belum mengalami proses disintegrasi. Pendekatan kualitatif dihitung pada perbedaan umur air tanah. Pada akuifer homogen dengan kemenerusan yang baik, air tanah berasal dari daerah dengan umur air tanah muda menuju daerah dengan umur air tanah lebih tua[1].

METODE
Konsentrasi Tritium di dalam air tanah berada dalam jumlah yang kecil, sehingga perlu proses pengayaan (enrichment). Sintesa cuplikan air tanah dengan menambahkan kalsium karbida (CaC2) akan menghasilkan gas asetelin (C2H2). Selanjutnya benzene dengan kemurnian tinggi diperoleh dari proses trimerisasi gas asetelin menggunakan katalis dasar kromium alumin. Proses pengayaan ini menggunakan benzene zyntheiser yang berfungsi merubah airtanah menjada benzene[4].
Metode pencacahan radiasi beta menggunakan pencacah kelip cair. Deteksi foton dihasilkan oleh interaksi zat organik bahan pengelip Ultima Gold dengan partikel beta dalam sampel. Foton yang terpancar ditangkap oleh foto katoda tabung pengganda electron (photomultiplier tube) dalam alat cacah kelip cair[4].
Data pencacahan cuplikan merupakan aktivitas Tritium dalam benzene. Selanjutnya nilai aktivitas cuplikan dihitung berdasar besarnya aktivitas Tritium dalam 1 gram hidrogen dalam benxen hasil sintesa. Jika dalam 1 mol air terdapat 18 gram air, maka dalam 1 mol hidrogen terdapat 9 gram air, sehingga aktivitas Tritium dalam air dihitung berdasar persamaan,

A_(tritium(H_2 O))=1/9×A_(tritium(H))

Karena 1 dpm/gram aktivitas Tritium dalam air sebesar 3,7x104x60 µCi/mlair sedangkan 0,32×10-8 µCi/mlair sama dengan 1 Tritium Unit (TU), maka

TU=(A_(tritium(H_2 O))/(3,7×〖10〗^4×60))×1/((0,32×10〖10〗^(-8) )

Pemetaan nilai TU berdasar posisi geografi dengan mempertimbangkan informasi geohidrologi digunakan dalam analisis pola gerakan air tanah dan keberadaan daerah imbuhan[3],[4],[5].

HASIL DAN PEMBAHASAN
Pemetaan nilai aktivitas Tritium daerah cekungan Surakarta yang dibuat bentuk dua dimensi menggunakan Surface Mapping System Surfer. Interpretasi didasarkan pada pola kesamaan nilai TU dalam klosur tertutup (iso tritium unit). Pola gerakan air tanah bergerak melintang garis kontur iso tritium unit dari daerah dengan nilai TU tinggi menuju daerah dengan nilai TU rendah[4].
Analisis nilai TU menunjukkan pola gerakan air tanah cekungan Surakarta memiliki orientasi gerakan arah Barat-Timur dan terdapat perubahan pola gerakan sepanjang bukit kapur Utara Surakarta seperti diperlihatkan dalam Gambar 1 Lapiran. Di beberapa daerah nampak klosur tertutup dengan ketajaman dalam yang menunjukkan eksplorasi air tanah secara berlebihan sehingga menyebabkan penurunan muka air tanah berbentuk kerucut terbalik (cone of depression) seperti diperlihatkan dalam Gambar 2, Lampiran[4] ,[6]’[7].

KESIMPULAN
Analisis umur Tritium dapat digunakan dalam penentuan daerah imbuhan dan analisis pola gerakan air tanah modern. Perhitungan nilai aktivitas dalam satuan Trtium Unit dilakukan dengan proses pengayaan cuplikan menjadi benzene dan menambahkan pengelip organik dan dicacah menggunakan alat cacah kelip cair
Aplikasi metode Tritium di daerah cekungan Surakarta menunjukkan pola gerakan dengan orientasi Barat-Timur dengan perpecahan pola gerakan pada deretan bukit kapur bagian Utara.

DAFTAR RUJUKAN
[1] Ristin Puji Indiyati, 2007, Tritium untuk Indentifikasi dan Penanggalan Air Tanah Modern, Jurnal Teknologi Pengelolaan Limbah, Vol.10, No.2, Hal. 68-75.
[2] Poppy Intan Tjahja dan Putu Sukmabuana, 1998, Tritium, Radionuklida yang perlu mendapat Perhatian, Buletin ALARA, Vol.2 No.1, Hal 19-25
[3] Budi Legowo dan Darsono, 2005, Analasis Gerakan Air Tanah Cekungan Surakarta Menggunakan Metode Perbandingan Umum Tritium, Laporan Penelitian DIPA UNS.
[4] Elistina, 2009, Penentuan Dosis Tritium dalam Urin Pekerja Radiasi untuk Pemantauan Kontaminasi Interna, Prosiding Pertemuan dan Presentasi Ilmiah Fungsional Pengembangan Teknologi Nuklir IV, BATAN, Hal 40-51.
[5] Mook, W.G., 2000, Environmental Isotopes in Hydrological Cycle-Principles and Aplications, Vol.IV., Unesco-IAEA.
[6] Budi Legowo, 2007 Pemetaan Penyebaran Sumber Air Tanah Asin Derah Surakarta dengan Metode Resistivitas, Prosiding 3rd Kentingan Physics Forum Jurusan Fisika FMIPA UNS.
[7] Mohamad Sapari Dwi Hadian, Undang Mardiana, Oman Abdurahman, dan Munib Ikhwatun Iman, 2006, Sebaran akuifer dan pola aliran air tanah di Kecamatan Batuceper dan Kecamatan Benda Kota Tangerang, Propinsi Banten, Jurnal Geologi Indonesia, Vol. 1 No. 3 Hal 115-128.

Disampaikan dalam Seminar Nasional Kimia dan Pendidikan Kimia

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret


Posted in Penelitian | No Comments »

BAHAN AJAR: SATU UKURAN PROFESIONALISME DOSEN DALAM PROSES PEMBELAJARAN

April 27th, 2011 by budi legowo


Pendahuluan
Terminologi bahan ajar dangan berbagai varian bentuk yang dimiliki masih belum memiliki definisi yang baik. Beberapa aturan perundangan menggunakan istilah yang berbeda untuk kepentingan yang sama. Berkait dengan tugas utama dosen, pengembangan bahan ajar merupakan salah satu unsur yang harus dipenuhi dalam uatamanya dalam pembelajaran. Pengahargaan bahan ajar yang dibuat oleh dosen sebagai penunjang proses pembelajaran jugan memiliki “nilai” tersendiri. Pengembangan bahan ajar memiliki angka kredit sesuai bobot produk yang dihasilkan. Sebagai penunjang proses akreditasi program studi, bahan ajar juga mendapat penilaian tersendiri.

Pengembangan bahan ajar matatakuliah tidak lepas dari rangakain pengembangan kurikulum program studi. Produk bahan ajar sedapat mungkin mengacu pada kompetensi dan kebutuhan pengguna lulusan. Bahan ajar, baik dalam bentuk tertulis atau tidak, hendaknya disusun secara sistematis sehingga mampu menciptakan lingkungan/suasana memunkinkan terjadinya proses pembelajaran.

Matakuliah yang “baik” sudah dilengkapi dengan instrument kurikulum, seperti: deskripsi kompetensi, silabus dan rpp. Kelengkapan isntrumen kurikulim yang sistematis tentunya sudah lengkap dengan materi, pengalamn belajar dan evaluasi pembelajaran. Komponen-komponen ini merupakan pijakan dalam pengembangan bahan ajar.

Sebagai rujukan ukuran profesionalisme dosen di UNS, makalah ini ditulis berdasar Peraturan Rektor UNS No. 251/H27/KP/2010, tentang Penilaian Angka Kredit Jabatan Fungsional dan Pangkat Dosen Universitas Sebelas Maret serta Peraturan Rektor UNS No. 397/H27/HK/2010 tentang Ekuivalensi Waktu Mengajar Penuh bagi Dosen di Lingungan Universitas Sebelas Maret.
Instrumen profesionalime yang dimaksud diharpakn dapat memberikan gambaran tugas kewajiban dan hak dosen dalam melaksanakan profesionalismenya dalam Tridaharma Perguruan Tinggi.

Bahan “Pengajaran”
Pengembangan bahan pengajaran (bahan ajar) seperti disebutkan dalam Peraturan Rektor UNS Nomor 251/H27/Kp/2010, tentang Penilaian Angka Kredit Jabatan Fungsional Dan Pangkat Dosen Universitas Sebelas Maret adalah merupakan pengembangan inofatif dari materi substansial pengajaran berupa buku, modul, diktat, modul, petunjuk praktikum, model, alat bantu, audio visual, naskah tutorial dan produk-produk sejenis. Masing-masing produk memiliki syarat dan ketentuan dalam pengembangannya. Secara berurutan dapat dijelaskan sebagai berikut,
1) Buku ajar adalah buku pegangan untuk suatu mata kuliah yang ditulis dan disusun oleh pakar di bidangnya yang diedit oleh pakar bidang terkait, memenuhi kaidah buku teks dan diterbitkan secara resmi serta disebarluaskan.
2) Diktat adalah bahan ajar untuk suatu mata kuliah yang ditulis dan disusun oleh pengajar mata kuliah tersebut, mengikuti kaidah tulisan ilmiah dan disebarluaskan kepada peserta kuliah.
3) Modul adalah bagian dari bahan ajar untuk suatu mata kuliah yang disusun oleh pengajar mata kuliah tersebut, mengikuti tata cara penulisan modul dan digunakan dalam perkuliahan.
4) Petunjuk praktikum adalah pedoman pelaksanaan praktikum yang berisi tata cara persiapan, pelaksanaan, analisis data dan pelaporan, yang disusun dan ditulis oleh seorang atau kelompok staf pengajar yang menangani praktikum tersebut dan mengikuti kaidah tulisan ilmiah.
5) Model adalah alat peraga atau simulasi komputer, yang digunakan untuk menjelaskan fenomena yang terkandung dalam penyajian dalam suatu mata kuliah, untuk meningkatkan pemahaman peserta kuliah.
6) Alat Bantu adalah perangkat keras maupun perangkat lunak yang digunakan untuk membantu pelaksanaan perkuliahan dalam rangka meningkatkan pemahaman peserta kuliah tentang suatu fenomena.
7) Audio visual adalah alat bantu perkuliahan yang menggunakan kombinasi antara gambar dan suara, digunakan dalam kuliah untuk meningkatkan pemahaman peserta didik tentang suatu fenomena.
8) Naskah tutorial adalah bahan rujukan untuk kegiatan tutorial suatu mata kuliah, yang disusun oleh pengajar mata kuliah atau oleh pelaksana kegiatan tutorial tersebut, dan mengikuti kaidah tulisan ilmiah.

Dalam Pedoman Operasional Penilaian Angka Kredit Kenaikan Jabatan Fungsional Dosen ke Lektor Kepala dan Guru Besar, Dirjen Dikti disebutkan secara khusus produk karya ilmiah hasil penelitian atau hasil penelitian yang dipublikasikan dalam bentuk buku: monograf dan buku referensi. Masing-masing produk dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Monograf adalah sauatu tulisan ilmiah dalam bentuk buku yang substansi pembahasannya hanya pada satu hal saja dalam satu bidang ilmu.
2) Buku Referensi adalah suatu tulisan dalam bentuk buku yang substansi pembahasannya pada satu bidang ilmu
khusus produk karya ilmiah atau hasil penelitian yang dipublikasikan dalam bentuk buku yang digunakan dalam proses pembelajaran otomatis menjadi bahan ajar.

Buku Ajar dan Buku Teks
Dalam paparan di atas terdapat beberapa jenis buku, dainatarnya: buku ajar, monograf dan buku referensi. Secara fisik, aturan penyusunan buku yang baik mengikuti kaedah format UNESCO yaitu mengandung paling sedikit 40 jumlah halaman cetak dengan ukuran minimal 15,5 cm x 23 cm yang diterbitkan oleh Badan Ilmiah/Organisasi/Perguruan Tinggi dan memiliki ISBN yang tercatat di Perpustakaan Nasional.
Pengertian buku ajar di perguruan tinggi, secara luas merupakan jenis buku yang diperuntukkan bagi mahasiswa sebagai bekal pengetahuan dasar dan digunakan sebagai sarana belajar serta dipakai untuk menyertai proses pembelajaran. Dibeberapa negara, jenis buku ini disebut sebagai textbook, tapi alih bahasa menjadi buku teks tidak cocok untuk menamai buku ini. Sesuai dengan jenis penggunaannya, istilah buku ajar lebih tepat dipakai sebagai padanan istilah text book dalam pembelajaran.

Definisi yang berdeda tercantum dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 11 Tahun 2005 yang menjelaskan bahwa buku teks (buku pelajaran) adalah buku acuan wajib untuk digunakan di sekolah yang memuat materi pembelajaran dalam rangka peningkatan keimanan dan ketakwaan, budi pekerti dan kepribadian, kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, kepekaan dan kemampuan estetis, potensi fisik dan kesehatan yang disusun berdasarkan standar nasional pendidikan. Selanjutnya terminologi ini digunakan pada penyusunan bahan ajar untuk pendidikan dasar dan menengah.

Seperti disebutkan dalam Panduan Pengajuan Usulan Program Penulisan Buku Teks Perguruan Tinggi tahun 2011, bahwa banyak dosen yang telah berhasil dalam penelitian multi tahun dan menguasi state of the art dalam bidang keahliannya sehingga kemampuan ini dapat digunakan sebagai modal dasar untuk menulis buku teks. Buku teks yang dimaksud disini, dengan mengedepankan aspek novelties, adalah jenis buku dalam bentuk monograf dan buku referensi.

Sebagai bahan ajar, buku ajar dan atau buku teks hendaknya dapat menimbulkan minat baca, ditulis dan dirancang berdasar “kebutuhan” peserta didik, merujuk pada kompetensi yang harus dicapai, disusun untuk proses instruksional dan memiliki mekanisme mengumpulkan umpan balik dari peserta didik. Ini berarti bahwa peserta didik dapat menggunakan bahan ajar secara mandiri, kapan saja dan dimana saja. Peserta didik dapat belajar sesuai dengan kecepatan masing-masing sesuai dengan urutan yang dipilih sendiri. Secara umum dapat dikatan bahwa buku ajar dapat mengembangkan potensi peserta didik menjadi pembelajar mandiri.

Penyusunan Bahan Ajar
Berkait fungsinya dalam proses pembelajaran, proses penyusunan buku ajar hendaknya diawali dengan telaah kurikulum dan penyusunan silabus matakuliah. Landasan filosofis pengembangan kurikulum yang meliputi pendekatan pembelajaran, tujuan, isi prosedur dan pengalaman belajar harus memperhatikan kompetensi dan kebutuhan pengguna lulusan.

Unsur-unsur yang hendaknya dipenuhi dalam bahan ajar cetak adalah, 1) Judul, 2) Kata Pengantar, 3) Daftar Isi, 4) Tinjauan matakuliah, 5) Isi/Bab, 6) Daftar pustaka, 7)Glossary, 8) Jawaban pertanyaan kunci dan 9) Indeks. Masing-masing unsure dapat dijelaskan sebagai berikut:
Tinjauan mata kuliah berisi deskripsi singkat dan kegunaan matakuliah, standar kompetensi, susunan bahan ajar serta petunjuk menggunakan bahan ajar bagi pembelajar.
Isi tiap bab memuat kompetensi dasar dan indicator, deskripsi singkat dari bab, materi, daftar bacaan tambahan, pertanyaan kunci, soal serta tugas.
Daftar pustaka berisi semua materi yang dijaddikan referensi dalam penyusunan materi bahan ajar.
Glosary merupakan definisi-definis istilah penting. Ini merupakan bagian opsional, tapi lebih baik disertakan untuk memudahkan pembelajar memahami istilah asing/baru yang digunakan secara khusus.
Jawaban pertanyaan kunci adalah semacam kunci jawaban untuk pertanyaan kunci dalam setiap bab.
Indeks merupakan daftar kata rujukan yang diserta nomor halaman untuk memudahkan pembelajaar materi berdasar kata yang dimaksudkan.

Mengembangkan bahan ajar memerlukan kahlian tersendiri. Bahan ajar biasanya disusun oleh tiga komponen utama, yaitu ahli materi, ahli instruksional dan ahli pengembangan media. Dosen yang memiliki pengalaman mengajar cukup lama seringkali dapat bertindak sebagai ahli materi dan instruksional, tapi kurang menguasai pengembangan media. Ini yang sering menyebabkan kesulitan dalam perancangan dan pengemasan bahan ajar.

Berdasar teknik pengemasannya, model bahan ajar dapat dibedakan menjadi empat, yaitu bahan ajar yang ditulis sendiri, hasil pengemasan informasi, kompilasi dan panduan penggunaan buku teks. Masing-masing model memiliki ciri dan tingkat kesulitan pengembangan yang berbeda-beda untuk setiap penyusunannya.

Dosen dengan keahlian dalam bidang ilmu tertentu, memiliki kemampuan menulis yang baik dan dapat memahami karakteristik pembelajar akan mudah membuat bahan ajar denganmenulis sendiri. Seperti halnya gaya belajar seseorang, kemampuan menyusun bahan ajar juga dipengaruhi oleh kemampuan auditori, visual dan kinestetik seseorang.

Bahan ajar model kedua merupakan hasil pengemasan kembali informasi. Model ini paling banyak dijumpai pada pengembangan bahan ajar. Langkah penyusunannya adalah dengan mengumpulkan informasi yang sudah ada “dipasaran” untuk selanjutnya dipilah sesuai dengan kebutuhan pemenuhan standar kompetensi matakuliah. Informasi yang terkumpul, selanjutnya ditulis kembali sesuai kaedah penyusunan bahan ajar dengan menambahkan instrument kompetensi, panaduan belajar dan evaluasi.

Model bahan ajar selanjutnya adalah kompilasi. Metode pengembangannya mirip seperti model pengemasan kembali informasi, bedanya adalah materi yang dikumpulkan digunakan langsung sesuai degan bentuk asli “sumbernya”. Selanjutnya materi disusun berdasar silabus matakuliah dengan menambahkan halaman penyekat yang berisi komptensi dasar dan indicator dan panduan penggunaan bagi pembelajar.

Model yang terakhir berbentuk panduan belajar untuk buku teks. Bahan ajar ini berisi over view dan rangkuman dari topik yang harus dipelajari. Buku teks seringkali berisi satu cakupan materi dalam satu bidang ilmu, sehingga perlu dibuatkan peta atau diagram kaitan antar topik yang perlu dipelajari untuk memandu ketercapaian kompetensi. Juga perlu dibuat daftar bacaan tambahan sebagai bahan pengayaan dan penjelasan tambahan baik dalam bentuk tertulis atau lisan/direkam untuk memberikan koreksi bagian dari topik yang salah, bias, kadaluarsa, dan membingungkan pengguna.

Untuk menjaga aspek kemanfaatan bahan ajar dalam pengembangan kompetensi pembelajar perlu diperhatikan beberapa factor penting dalam penyususnan bahan ajar. Faktor-faktor yang dimaksud adalah,
Kecermatan isi, yang dibuktikan dengan validitas, akurasi dan kesahihan isi yang tinggi sehingga todak ada konsep yang salah/keliru.
Ketepatan cakupan, berkaitan dengan keluasan dan kedalaman materi yang sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai.
Kemutakhiran materi, artinya substansi bahan ajar sesuai dengan perkembangan terkini
Ketercernaan naskah, artinya paparan isi dalam bahan ajar mudah dipahami dengan baik dan benar oleh mahasiswa pengguna
Penggunaan bahasa, agar pesan dapat dicerna dengan baik perlu digunakan bahasa yang efektif, komunikatif, dan dialogis
Penggunaan ilustrasi yang tepat dapat mendukung penyampaian materi dengan lebih baik. Ilustrasi dapat berupa gambar, skema, symbol yang dibuat sendiri atau memanfaatkan yang sudah ada sehinga dapat memperjelas pesan, membantu ingatan, member variasi dan membangkitkan motivasi.
Penyajian, menggunakan strategi penyajian yang interaktif yang memungkinkan mahasiswa menilai kemajuan belajarnya
Perwajahan, semua informasi dalam bahan ajar ditata secara proporsional, jelas, runtut, serta menarik.

Penutup
Secara tidak sadar sebagian besar dari pengajar sudah memiliki kemampuan mendeskripsikan pengetahuan sesuai dengan bidang ilmu yang dikuasi. Pengalaman menyampaikan materi secara oral selama kurun waktu yang lama menjadi gaya tersendiri yang bila disokumentasikan akan menjadi bahan ajar yang dapat dimanfaatkan secara mandiri oleh peserta didik dalam mencapai kometensi.

Jangan pernah khawatir bila ada pameo “Jangan ngaku dosen kalau belum nulis buku” karena sebagai bagian dari “pendidik profesional” dosen merupakan bahan ajar yang dapat dimanfaatka kapan saja dan dimanasaja oleh siapa saja. Tentunya keterbatasan waktu akan menjadi kendala, jadi menulislah selagi bisa.

disampaikan dalam seminar Jurusan Pendidikn Teknik Keahlian

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret

Pabelaan-Surakarta, 28 April 2011


Posted in Mulang | 3 Comments »

Tembak-tembakan

February 25th, 2011 by budi legowo


Inspirasi dari “Workshop Produksi Bahan Ajar Multimedia dan Pemanfaatan Web 2.0 untuk Perkuliahan Jarak Jauh” Kerjasama DBE2 USAID dan LPP UNS.

Permainan ini sangat baik untuk ngecek konsentrasi dan reflek peserta dalam menerima informasi.

Buat lingkaran untuk seluruh peserta, kalau waktu cukup bisa diawali dengan game angkat tangan kiri, sekalian pemanasan.Selanjutnay berikan instruksi permainan”tembak-tembakan” sebagai berikut:

  1. Peserta menyebut angka secara urut mulai dari 1(satu)
  2. Khusus angka 3 (tiga), kelipatan 3 dan yang mengandung angka 3diganti dengan DOR (contoh: 1,2,DOR,4,5,DOR,7,8,DOR,10,11,DOR,DOR, 14..dst)
  3. Peserta yang melakukan kesalahan diminta mundur satu langkah (atau duduk)

Ulangi/Teruskan permainan sampai tinggal satu permainan, bisa jadi game dengan “bau” kompetisi (apalagi kalau pesertanya dari unit-unit yang heterogen).

Selama ini tidak ada yang bisa mancapai angka 30, terimakasih mas Aflah atas inspirasinya


Posted in Dolanan | No Comments »

Menggunakan Audacity

February 24th, 2011 by budi legowo


“Workshop Produksi Bahan Ajar Mutimedia dan Pemanfaatan Web 2.0 untuk Perkuliahan Jarak Jauh”

Audacity merupakan salah satu software pengolah suara yang cukup mudah untuk digunakan.  Beberapa orang menggunakan software ini untuk memproduksi ringtone dengan memotong sebagian lagu dan atau menyisipkan bagian-bagian suara untuk memperkaya suara yang dihasilkan.

Dalam proses pembelajaran, audacity dapat dimanfatkan untuk memproduksi bahan ajar mandiri yang bisa digunakan oleh peserta didik sebagai sumber belajar baik untuk proses remidial dan atau pengayaan. Untuk memudahkan proses produksi sebaiknya disiapkan terlebih dulu materi ajar yang akan dibuat dalam bentuk skrip/narasi pendek atau dalam bentuk storyboard.

Audacity dapat juga digunakan untuk perekaman langsung dalam kelas, selanjutnya bisa dilakukan proses filtering dengan beberapa pengaturan untuk “membersihkan” suara latar yang tidak diperlukan. Untuk hasil yang maksimal sebaiknya lakukan produksi media dengan rencana yang baik.

Tutorial: Merekam File Suara Menggunakan Audacity

Software: Audacity versi 1.2.6 atau 1.3.12 beta


Posted in Mulang | No Comments »

« Previous Entries

Wordpress Theme powered by Seo, Diseño Web and Viajes Team | Copyright © Budi Legowo