May 2nd, 2011 by budi legowo
PENDAHULUAN
Metode radioaktifitas yang banyak digunakan dalam pengukuran umur air tanah adalah menggunakan isotop dengan waktu paruh yang panjang, misalnya 14C, 38Cl, 39Ar dan 81Kr untuk penanggalan umur air tanah tua (paleogroundwater). Isotop dengan umur pendek seperti, 3H, 32Si, 37Ar, 85Kr dan 222Rn digunakan untuk pengukuran umur air tanah modern[1].
Tritium di lingkungan salah satunya merupakan hasil samping operasi reaktor nuklir. Pendingin reaktor menghasilkan Tritium kurang lebih 1,850 sampai 3,700×1013 dan 5,4×1016 Bq/tahun untuk setiap 1000MWe. Secara alamiah maupun yang hasil produksi fasilitas nuklir, Tritium terdapat dalam bentuk molekul air (HTO), gas Tritium (HT) dan gas metana (CH3T) [2].
Air tanah modern merupakan air tanah yang meresap dalam kurun beberapa decade yang lalu dan aktif dalam siklus hidrogeologi. Penentuan umur air tanah menggunakan metode radioaktifitas Tritium dapat digunakan untuk melakukan analaisis daerah pengisian (recharge area), pemetaan pola gerakan air tanah dan fluktiasi musiman seperti yang pernah dilakukan di cekungan Surakarta (Solo upper basin)[3].
Sebagai salah satu isotop hidrogen yang bersifat radioaktif. Tritium, secara kimia sama dengan hidrogen yang dengan kelebihan netron dalam ini atomnya dengan waktu paruh 12,4 tahun. Secara spontan inti Tritium akan menjadi inti Helium diserta emisi radiasi beta. Segera setelah terbentuk di atmosfer, Tritium berubah menjadi molekul air melalui proses oksidasi dan mencapai permukaan bumi bersama dengan air hujan[2].
Melaluai proses infiltrasi, Tritium bersama air hujan menuju daerah jenuh menjadi air tanah tertekan. Fungsi waktu tinggal air tanah memepengaruhi aktivitas Tritium yang belum mengalami proses disintegrasi. Pendekatan kualitatif dihitung pada perbedaan umur air tanah. Pada akuifer homogen dengan kemenerusan yang baik, air tanah berasal dari daerah dengan umur air tanah muda menuju daerah dengan umur air tanah lebih tua[1].
METODE
Konsentrasi Tritium di dalam air tanah berada dalam jumlah yang kecil, sehingga perlu proses pengayaan (enrichment). Sintesa cuplikan air tanah dengan menambahkan kalsium karbida (CaC2) akan menghasilkan gas asetelin (C2H2). Selanjutnya benzene dengan kemurnian tinggi diperoleh dari proses trimerisasi gas asetelin menggunakan katalis dasar kromium alumin. Proses pengayaan ini menggunakan benzene zyntheiser yang berfungsi merubah airtanah menjada benzene[4].
Metode pencacahan radiasi beta menggunakan pencacah kelip cair. Deteksi foton dihasilkan oleh interaksi zat organik bahan pengelip Ultima Gold dengan partikel beta dalam sampel. Foton yang terpancar ditangkap oleh foto katoda tabung pengganda electron (photomultiplier tube) dalam alat cacah kelip cair[4].
Data pencacahan cuplikan merupakan aktivitas Tritium dalam benzene. Selanjutnya nilai aktivitas cuplikan dihitung berdasar besarnya aktivitas Tritium dalam 1 gram hidrogen dalam benxen hasil sintesa. Jika dalam 1 mol air terdapat 18 gram air, maka dalam 1 mol hidrogen terdapat 9 gram air, sehingga aktivitas Tritium dalam air dihitung berdasar persamaan,
A_(tritium(H_2 O))=1/9×A_(tritium(H))
Karena 1 dpm/gram aktivitas Tritium dalam air sebesar 3,7x104x60 µCi/mlair sedangkan 0,32×10-8 µCi/mlair sama dengan 1 Tritium Unit (TU), maka
TU=(A_(tritium(H_2 O))/(3,7×〖10〗^4×60))×1/((0,32×10〖10〗^(-8) )
Pemetaan nilai TU berdasar posisi geografi dengan mempertimbangkan informasi geohidrologi digunakan dalam analisis pola gerakan air tanah dan keberadaan daerah imbuhan[3],[4],[5].
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pemetaan nilai aktivitas Tritium daerah cekungan Surakarta yang dibuat bentuk dua dimensi menggunakan Surface Mapping System Surfer. Interpretasi didasarkan pada pola kesamaan nilai TU dalam klosur tertutup (iso tritium unit). Pola gerakan air tanah bergerak melintang garis kontur iso tritium unit dari daerah dengan nilai TU tinggi menuju daerah dengan nilai TU rendah[4].
Analisis nilai TU menunjukkan pola gerakan air tanah cekungan Surakarta memiliki orientasi gerakan arah Barat-Timur dan terdapat perubahan pola gerakan sepanjang bukit kapur Utara Surakarta seperti diperlihatkan dalam Gambar 1 Lapiran. Di beberapa daerah nampak klosur tertutup dengan ketajaman dalam yang menunjukkan eksplorasi air tanah secara berlebihan sehingga menyebabkan penurunan muka air tanah berbentuk kerucut terbalik (cone of depression) seperti diperlihatkan dalam Gambar 2, Lampiran[4] ,[6]’[7].
KESIMPULAN
Analisis umur Tritium dapat digunakan dalam penentuan daerah imbuhan dan analisis pola gerakan air tanah modern. Perhitungan nilai aktivitas dalam satuan Trtium Unit dilakukan dengan proses pengayaan cuplikan menjadi benzene dan menambahkan pengelip organik dan dicacah menggunakan alat cacah kelip cair
Aplikasi metode Tritium di daerah cekungan Surakarta menunjukkan pola gerakan dengan orientasi Barat-Timur dengan perpecahan pola gerakan pada deretan bukit kapur bagian Utara.
DAFTAR RUJUKAN
[1] Ristin Puji Indiyati, 2007, Tritium untuk Indentifikasi dan Penanggalan Air Tanah Modern, Jurnal Teknologi Pengelolaan Limbah, Vol.10, No.2, Hal. 68-75.
[2] Poppy Intan Tjahja dan Putu Sukmabuana, 1998, Tritium, Radionuklida yang perlu mendapat Perhatian, Buletin ALARA, Vol.2 No.1, Hal 19-25
[3] Budi Legowo dan Darsono, 2005, Analasis Gerakan Air Tanah Cekungan Surakarta Menggunakan Metode Perbandingan Umum Tritium, Laporan Penelitian DIPA UNS.
[4] Elistina, 2009, Penentuan Dosis Tritium dalam Urin Pekerja Radiasi untuk Pemantauan Kontaminasi Interna, Prosiding Pertemuan dan Presentasi Ilmiah Fungsional Pengembangan Teknologi Nuklir IV, BATAN, Hal 40-51.
[5] Mook, W.G., 2000, Environmental Isotopes in Hydrological Cycle-Principles and Aplications, Vol.IV., Unesco-IAEA.
[6] Budi Legowo, 2007 Pemetaan Penyebaran Sumber Air Tanah Asin Derah Surakarta dengan Metode Resistivitas, Prosiding 3rd Kentingan Physics Forum Jurusan Fisika FMIPA UNS.
[7] Mohamad Sapari Dwi Hadian, Undang Mardiana, Oman Abdurahman, dan Munib Ikhwatun Iman, 2006, Sebaran akuifer dan pola aliran air tanah di Kecamatan Batuceper dan Kecamatan Benda Kota Tangerang, Propinsi Banten, Jurnal Geologi Indonesia, Vol. 1 No. 3 Hal 115-128.
Disampaikan dalam Seminar Nasional Kimia dan Pendidikan Kimia
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret
Posted in Penelitian | No Comments »
April 27th, 2011 by budi legowo
Pendahuluan
Terminologi bahan ajar dangan berbagai varian bentuk yang dimiliki masih belum memiliki definisi yang baik. Beberapa aturan perundangan menggunakan istilah yang berbeda untuk kepentingan yang sama. Berkait dengan tugas utama dosen, pengembangan bahan ajar merupakan salah satu unsur yang harus dipenuhi dalam uatamanya dalam pembelajaran. Pengahargaan bahan ajar yang dibuat oleh dosen sebagai penunjang proses pembelajaran jugan memiliki “nilai” tersendiri. Pengembangan bahan ajar memiliki angka kredit sesuai bobot produk yang dihasilkan. Sebagai penunjang proses akreditasi program studi, bahan ajar juga mendapat penilaian tersendiri.
Pengembangan bahan ajar matatakuliah tidak lepas dari rangakain pengembangan kurikulum program studi. Produk bahan ajar sedapat mungkin mengacu pada kompetensi dan kebutuhan pengguna lulusan. Bahan ajar, baik dalam bentuk tertulis atau tidak, hendaknya disusun secara sistematis sehingga mampu menciptakan lingkungan/suasana memunkinkan terjadinya proses pembelajaran.
Matakuliah yang “baik” sudah dilengkapi dengan instrument kurikulum, seperti: deskripsi kompetensi, silabus dan rpp. Kelengkapan isntrumen kurikulim yang sistematis tentunya sudah lengkap dengan materi, pengalamn belajar dan evaluasi pembelajaran. Komponen-komponen ini merupakan pijakan dalam pengembangan bahan ajar.
Sebagai rujukan ukuran profesionalisme dosen di UNS, makalah ini ditulis berdasar Peraturan Rektor UNS No. 251/H27/KP/2010, tentang Penilaian Angka Kredit Jabatan Fungsional dan Pangkat Dosen Universitas Sebelas Maret serta Peraturan Rektor UNS No. 397/H27/HK/2010 tentang Ekuivalensi Waktu Mengajar Penuh bagi Dosen di Lingungan Universitas Sebelas Maret.
Instrumen profesionalime yang dimaksud diharpakn dapat memberikan gambaran tugas kewajiban dan hak dosen dalam melaksanakan profesionalismenya dalam Tridaharma Perguruan Tinggi.
Bahan “Pengajaran”
Pengembangan bahan pengajaran (bahan ajar) seperti disebutkan dalam Peraturan Rektor UNS Nomor 251/H27/Kp/2010, tentang Penilaian Angka Kredit Jabatan Fungsional Dan Pangkat Dosen Universitas Sebelas Maret adalah merupakan pengembangan inofatif dari materi substansial pengajaran berupa buku, modul, diktat, modul, petunjuk praktikum, model, alat bantu, audio visual, naskah tutorial dan produk-produk sejenis. Masing-masing produk memiliki syarat dan ketentuan dalam pengembangannya. Secara berurutan dapat dijelaskan sebagai berikut,
1) Buku ajar adalah buku pegangan untuk suatu mata kuliah yang ditulis dan disusun oleh pakar di bidangnya yang diedit oleh pakar bidang terkait, memenuhi kaidah buku teks dan diterbitkan secara resmi serta disebarluaskan.
2) Diktat adalah bahan ajar untuk suatu mata kuliah yang ditulis dan disusun oleh pengajar mata kuliah tersebut, mengikuti kaidah tulisan ilmiah dan disebarluaskan kepada peserta kuliah.
3) Modul adalah bagian dari bahan ajar untuk suatu mata kuliah yang disusun oleh pengajar mata kuliah tersebut, mengikuti tata cara penulisan modul dan digunakan dalam perkuliahan.
4) Petunjuk praktikum adalah pedoman pelaksanaan praktikum yang berisi tata cara persiapan, pelaksanaan, analisis data dan pelaporan, yang disusun dan ditulis oleh seorang atau kelompok staf pengajar yang menangani praktikum tersebut dan mengikuti kaidah tulisan ilmiah.
5) Model adalah alat peraga atau simulasi komputer, yang digunakan untuk menjelaskan fenomena yang terkandung dalam penyajian dalam suatu mata kuliah, untuk meningkatkan pemahaman peserta kuliah.
6) Alat Bantu adalah perangkat keras maupun perangkat lunak yang digunakan untuk membantu pelaksanaan perkuliahan dalam rangka meningkatkan pemahaman peserta kuliah tentang suatu fenomena.
7) Audio visual adalah alat bantu perkuliahan yang menggunakan kombinasi antara gambar dan suara, digunakan dalam kuliah untuk meningkatkan pemahaman peserta didik tentang suatu fenomena.
Naskah tutorial adalah bahan rujukan untuk kegiatan tutorial suatu mata kuliah, yang disusun oleh pengajar mata kuliah atau oleh pelaksana kegiatan tutorial tersebut, dan mengikuti kaidah tulisan ilmiah.
Dalam Pedoman Operasional Penilaian Angka Kredit Kenaikan Jabatan Fungsional Dosen ke Lektor Kepala dan Guru Besar, Dirjen Dikti disebutkan secara khusus produk karya ilmiah hasil penelitian atau hasil penelitian yang dipublikasikan dalam bentuk buku: monograf dan buku referensi. Masing-masing produk dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Monograf adalah sauatu tulisan ilmiah dalam bentuk buku yang substansi pembahasannya hanya pada satu hal saja dalam satu bidang ilmu.
2) Buku Referensi adalah suatu tulisan dalam bentuk buku yang substansi pembahasannya pada satu bidang ilmu
khusus produk karya ilmiah atau hasil penelitian yang dipublikasikan dalam bentuk buku yang digunakan dalam proses pembelajaran otomatis menjadi bahan ajar.
Buku Ajar dan Buku Teks
Dalam paparan di atas terdapat beberapa jenis buku, dainatarnya: buku ajar, monograf dan buku referensi. Secara fisik, aturan penyusunan buku yang baik mengikuti kaedah format UNESCO yaitu mengandung paling sedikit 40 jumlah halaman cetak dengan ukuran minimal 15,5 cm x 23 cm yang diterbitkan oleh Badan Ilmiah/Organisasi/Perguruan Tinggi dan memiliki ISBN yang tercatat di Perpustakaan Nasional.
Pengertian buku ajar di perguruan tinggi, secara luas merupakan jenis buku yang diperuntukkan bagi mahasiswa sebagai bekal pengetahuan dasar dan digunakan sebagai sarana belajar serta dipakai untuk menyertai proses pembelajaran. Dibeberapa negara, jenis buku ini disebut sebagai textbook, tapi alih bahasa menjadi buku teks tidak cocok untuk menamai buku ini. Sesuai dengan jenis penggunaannya, istilah buku ajar lebih tepat dipakai sebagai padanan istilah text book dalam pembelajaran.
Definisi yang berdeda tercantum dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 11 Tahun 2005 yang menjelaskan bahwa buku teks (buku pelajaran) adalah buku acuan wajib untuk digunakan di sekolah yang memuat materi pembelajaran dalam rangka peningkatan keimanan dan ketakwaan, budi pekerti dan kepribadian, kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, kepekaan dan kemampuan estetis, potensi fisik dan kesehatan yang disusun berdasarkan standar nasional pendidikan. Selanjutnya terminologi ini digunakan pada penyusunan bahan ajar untuk pendidikan dasar dan menengah.
Seperti disebutkan dalam Panduan Pengajuan Usulan Program Penulisan Buku Teks Perguruan Tinggi tahun 2011, bahwa banyak dosen yang telah berhasil dalam penelitian multi tahun dan menguasi state of the art dalam bidang keahliannya sehingga kemampuan ini dapat digunakan sebagai modal dasar untuk menulis buku teks. Buku teks yang dimaksud disini, dengan mengedepankan aspek novelties, adalah jenis buku dalam bentuk monograf dan buku referensi.
Sebagai bahan ajar, buku ajar dan atau buku teks hendaknya dapat menimbulkan minat baca, ditulis dan dirancang berdasar “kebutuhan” peserta didik, merujuk pada kompetensi yang harus dicapai, disusun untuk proses instruksional dan memiliki mekanisme mengumpulkan umpan balik dari peserta didik. Ini berarti bahwa peserta didik dapat menggunakan bahan ajar secara mandiri, kapan saja dan dimana saja. Peserta didik dapat belajar sesuai dengan kecepatan masing-masing sesuai dengan urutan yang dipilih sendiri. Secara umum dapat dikatan bahwa buku ajar dapat mengembangkan potensi peserta didik menjadi pembelajar mandiri.
Penyusunan Bahan Ajar
Berkait fungsinya dalam proses pembelajaran, proses penyusunan buku ajar hendaknya diawali dengan telaah kurikulum dan penyusunan silabus matakuliah. Landasan filosofis pengembangan kurikulum yang meliputi pendekatan pembelajaran, tujuan, isi prosedur dan pengalaman belajar harus memperhatikan kompetensi dan kebutuhan pengguna lulusan.
Unsur-unsur yang hendaknya dipenuhi dalam bahan ajar cetak adalah, 1) Judul, 2) Kata Pengantar, 3) Daftar Isi, 4) Tinjauan matakuliah, 5) Isi/Bab, 6) Daftar pustaka, 7)Glossary,
Jawaban pertanyaan kunci dan 9) Indeks. Masing-masing unsure dapat dijelaskan sebagai berikut:
Tinjauan mata kuliah berisi deskripsi singkat dan kegunaan matakuliah, standar kompetensi, susunan bahan ajar serta petunjuk menggunakan bahan ajar bagi pembelajar.
Isi tiap bab memuat kompetensi dasar dan indicator, deskripsi singkat dari bab, materi, daftar bacaan tambahan, pertanyaan kunci, soal serta tugas.
Daftar pustaka berisi semua materi yang dijaddikan referensi dalam penyusunan materi bahan ajar.
Glosary merupakan definisi-definis istilah penting. Ini merupakan bagian opsional, tapi lebih baik disertakan untuk memudahkan pembelajar memahami istilah asing/baru yang digunakan secara khusus.
Jawaban pertanyaan kunci adalah semacam kunci jawaban untuk pertanyaan kunci dalam setiap bab.
Indeks merupakan daftar kata rujukan yang diserta nomor halaman untuk memudahkan pembelajaar materi berdasar kata yang dimaksudkan.
Mengembangkan bahan ajar memerlukan kahlian tersendiri. Bahan ajar biasanya disusun oleh tiga komponen utama, yaitu ahli materi, ahli instruksional dan ahli pengembangan media. Dosen yang memiliki pengalaman mengajar cukup lama seringkali dapat bertindak sebagai ahli materi dan instruksional, tapi kurang menguasai pengembangan media. Ini yang sering menyebabkan kesulitan dalam perancangan dan pengemasan bahan ajar.
Berdasar teknik pengemasannya, model bahan ajar dapat dibedakan menjadi empat, yaitu bahan ajar yang ditulis sendiri, hasil pengemasan informasi, kompilasi dan panduan penggunaan buku teks. Masing-masing model memiliki ciri dan tingkat kesulitan pengembangan yang berbeda-beda untuk setiap penyusunannya.
Dosen dengan keahlian dalam bidang ilmu tertentu, memiliki kemampuan menulis yang baik dan dapat memahami karakteristik pembelajar akan mudah membuat bahan ajar denganmenulis sendiri. Seperti halnya gaya belajar seseorang, kemampuan menyusun bahan ajar juga dipengaruhi oleh kemampuan auditori, visual dan kinestetik seseorang.
Bahan ajar model kedua merupakan hasil pengemasan kembali informasi. Model ini paling banyak dijumpai pada pengembangan bahan ajar. Langkah penyusunannya adalah dengan mengumpulkan informasi yang sudah ada “dipasaran” untuk selanjutnya dipilah sesuai dengan kebutuhan pemenuhan standar kompetensi matakuliah. Informasi yang terkumpul, selanjutnya ditulis kembali sesuai kaedah penyusunan bahan ajar dengan menambahkan instrument kompetensi, panaduan belajar dan evaluasi.
Model bahan ajar selanjutnya adalah kompilasi. Metode pengembangannya mirip seperti model pengemasan kembali informasi, bedanya adalah materi yang dikumpulkan digunakan langsung sesuai degan bentuk asli “sumbernya”. Selanjutnya materi disusun berdasar silabus matakuliah dengan menambahkan halaman penyekat yang berisi komptensi dasar dan indicator dan panduan penggunaan bagi pembelajar.
Model yang terakhir berbentuk panduan belajar untuk buku teks. Bahan ajar ini berisi over view dan rangkuman dari topik yang harus dipelajari. Buku teks seringkali berisi satu cakupan materi dalam satu bidang ilmu, sehingga perlu dibuatkan peta atau diagram kaitan antar topik yang perlu dipelajari untuk memandu ketercapaian kompetensi. Juga perlu dibuat daftar bacaan tambahan sebagai bahan pengayaan dan penjelasan tambahan baik dalam bentuk tertulis atau lisan/direkam untuk memberikan koreksi bagian dari topik yang salah, bias, kadaluarsa, dan membingungkan pengguna.
Untuk menjaga aspek kemanfaatan bahan ajar dalam pengembangan kompetensi pembelajar perlu diperhatikan beberapa factor penting dalam penyususnan bahan ajar. Faktor-faktor yang dimaksud adalah,
Kecermatan isi, yang dibuktikan dengan validitas, akurasi dan kesahihan isi yang tinggi sehingga todak ada konsep yang salah/keliru.
Ketepatan cakupan, berkaitan dengan keluasan dan kedalaman materi yang sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai.
Kemutakhiran materi, artinya substansi bahan ajar sesuai dengan perkembangan terkini
Ketercernaan naskah, artinya paparan isi dalam bahan ajar mudah dipahami dengan baik dan benar oleh mahasiswa pengguna
Penggunaan bahasa, agar pesan dapat dicerna dengan baik perlu digunakan bahasa yang efektif, komunikatif, dan dialogis
Penggunaan ilustrasi yang tepat dapat mendukung penyampaian materi dengan lebih baik. Ilustrasi dapat berupa gambar, skema, symbol yang dibuat sendiri atau memanfaatkan yang sudah ada sehinga dapat memperjelas pesan, membantu ingatan, member variasi dan membangkitkan motivasi.
Penyajian, menggunakan strategi penyajian yang interaktif yang memungkinkan mahasiswa menilai kemajuan belajarnya
Perwajahan, semua informasi dalam bahan ajar ditata secara proporsional, jelas, runtut, serta menarik.
Penutup
Secara tidak sadar sebagian besar dari pengajar sudah memiliki kemampuan mendeskripsikan pengetahuan sesuai dengan bidang ilmu yang dikuasi. Pengalaman menyampaikan materi secara oral selama kurun waktu yang lama menjadi gaya tersendiri yang bila disokumentasikan akan menjadi bahan ajar yang dapat dimanfaatkan secara mandiri oleh peserta didik dalam mencapai kometensi.
Jangan pernah khawatir bila ada pameo “Jangan ngaku dosen kalau belum nulis buku” karena sebagai bagian dari “pendidik profesional” dosen merupakan bahan ajar yang dapat dimanfaatka kapan saja dan dimanasaja oleh siapa saja. Tentunya keterbatasan waktu akan menjadi kendala, jadi menulislah selagi bisa.
disampaikan dalam seminar Jurusan Pendidikn Teknik Keahlian
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret
Pabelaan-Surakarta, 28 April 2011
Posted in Mulang, Uncategorized | No Comments »
February 25th, 2011 by budi legowo
Inspirasi dari “Workshop Produksi Bahan Ajar Multimedia dan Pemanfaatan Web 2.0 untuk Perkuliahan Jarak Jauh” Kerjasama DBE2 USAID dan LPP UNS.
Permainan ini sangat baik untuk ngecek konsentrasi dan reflek peserta dalam menerima informasi.
Buat lingkaran untuk seluruh peserta, kalau waktu cukup bisa diawali dengan game angkat tangan kiri, sekalian pemanasan.Selanjutnay berikan instruksi permainan”tembak-tembakan” sebagai berikut:
- Peserta menyebut angka secara urut mulai dari 1(satu)
- Khusus angka 3 (tiga), kelipatan 3 dan yang mengandung angka 3diganti dengan DOR (contoh: 1,2,DOR,4,5,DOR,7,8,DOR,10,11,DOR,DOR, 14..dst)
- Peserta yang melakukan kesalahan diminta mundur satu langkah (atau duduk)
Ulangi/Teruskan permainan sampai tinggal satu permainan, bisa jadi game dengan “bau” kompetisi (apalagi kalau pesertanya dari unit-unit yang heterogen).
Selama ini tidak ada yang bisa mancapai angka 30, terimakasih mas Aflah atas inspirasinya
Posted in Dolanan | No Comments »
February 24th, 2011 by budi legowo
“Workshop Produksi Bahan Ajar Mutimedia dan Pemanfaatan Web 2.0 untuk Perkuliahan Jarak Jauh”
Audacity merupakan salah satu software pengolah suara yang cukup mudah untuk digunakan. Beberapa orang menggunakan software ini untuk memproduksi ringtone dengan memotong sebagian lagu dan atau menyisipkan bagian-bagian suara untuk memperkaya suara yang dihasilkan.
Dalam proses pembelajaran, audacity dapat dimanfatkan untuk memproduksi bahan ajar mandiri yang bisa digunakan oleh peserta didik sebagai sumber belajar baik untuk proses remidial dan atau pengayaan. Untuk memudahkan proses produksi sebaiknya disiapkan terlebih dulu materi ajar yang akan dibuat dalam bentuk skrip/narasi pendek atau dalam bentuk storyboard.
Audacity dapat juga digunakan untuk perekaman langsung dalam kelas, selanjutnya bisa dilakukan proses filtering dengan beberapa pengaturan untuk “membersihkan” suara latar yang tidak diperlukan. Untuk hasil yang maksimal sebaiknya lakukan produksi media dengan rencana yang baik.
Tutorial: Merekam File Suara Menggunakan Audacity
Software: Audacity versi 1.2.6 atau 1.3.12 beta
Posted in Mulang | No Comments »
November 20th, 2010 by budi legowo
Komunikasi dalam Pembelajaran
Media merupakan bentuk jamak dari medium yang berarti perantara. Secara umum, media dimaknai sebagai segala “sesuatu” yang berfungsi sebagai perantara dua pihak atau dua hal. Dalam proses komunikasi, media hanya satu dari empat komponen yang harus ada, yaitu sumber informasi, informasi, penerima informasi dan media itu sendiri. Jika salah satu saja dari empat komponen ini tidak ada, maka proses komunikasi tidak akan berjalan.
Media pembelajaran dapat dimaknai sebagai “segala sesuatu” yang mengantarkan pesan pembelajaran dari pemberi dan penerima pesan. Dalam proses instruksional, media diartikan sebagai “teknologi” pembawa pesan (informasi) yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran atau merupakan “sarana fisik” untuk menyampaikan isi/pesan pembelajaran.
Secara khusus dapat dikatakan bahwa, media adalah setiap orang, bahan, alat atau peristiwa yang dapat menciptakan kondisi yang memungkinkan peserta didik dapat mengalami perubahan prilaku/sikap yang relatif permanent karena pengalaman,pengetahuan dan ketrampilan yang diterimanya.

- proses pbm
Gambar 1. Proses Komunikasi dalam Pembelajaran
Seperti ditunjukkan Gambar 1 di atas, proses komunikasi pembelajaran dengan empat komponen yang telah disebut didepan tidak dapat dilepaskan dari satu komponen lagi yaitu “metode pembelajaran”. Metode pembelajaran adalah prosedur yang sengaja dirancang untuk menjamin tercapainya tujuan pembelajaran, terutama keberhasil peserta didik dalam mencapi komptensi yang diharapkan.
Metode Pembelajaran
Keberhasilan mencapai tujuan pembelajaran tidak dapat lepas dari cara menyampaikan pesan/informasi pembelajaran merupakan. Cara atau metode menyampaikan pesan pembelajaran disebut metode pembelajaran. Rancangan cara penyampaian pesan pembelajaran sendiri disebut strategi pembelajaran. Bila metode bersifat teknis, maka strategi pembelajaran lebih bersifat konseptual. Sementara cakupan teoritis yang melatar belakangi strategi dan metode pembelajaran disebut sebagai pendekatan. Pendekatan pembelajaran yang umum di kenal adalah: 1. Berorientasi/berpusat pada guru/pendidik dan 2. Berorientasi/berpusat pada peserta didik.Gambar 2. Hirarki terminologi proses pembelajaran

- model pembelajaran
Gambar 2. Hirarki terminologi proses pembelajaran
Penguasaan metode pembelajaran merupakan hal mutlak bagi guru/pendidik. Sebagaimana amanat Undang-undang No.20 tahun 2003 tantang SISDIKNAS, pasal 40: ayat 2a, bahwa: pendidik memiliki kewajiban untuk menciptakan “suasana pendidikan” yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis dan dialogis.
Suasana pendidikan dapat dimaknai sebagai proses komunikasi pembelajaran yang tentu saja secara imbal balik melibatkan sumber dan penerima informasi. Untuk menjamin suasana pendidikan seperti yang diamanatkan oleh UU SISDIKNAS diatas, multak diperlukan ragam dan sumber media pembelajaran yang secara bersama-sama digunakan dalam mencapai tujuan pembelajaran. Berbagai jenis media yang digunakan “bersama” dalam proses pembelajaran selanjutnya di sebut sebagai MULTIMEDIA.
Multimedia Pembelajaran
Perkembangan teknologi pendidikan mendorong berkembangnya media yang digunakan dalam menyampaikan pesan pembelajaran. Pendekatan pembelajaran yang berorientasi/berpusat pada siswa menyebabkan kebutuhan informasi pembelajaran semakin besar. Segala macam bentuk pesan baik berupa teks, grafis dan atau suara secara sinergi duganakan dalam komunikasi pembelajaran dengan bentuk multimedia.
Penggunaan ragam media ini memiliki makna penting karena, menurut Edgar Dale, Profesor Pendidikan Ohio State Univesity, media sangat berpengaruh pada “keterterimaan” ilmu (baca: materi) oleh peserta didik dalam mengikuti proses belajar mengajar.

- edgar dale
Gambar 3. Piramida Dale
Tidak kurang dari 2400 tahun yang lalu, Confucius menyatakan bahwa: apa yang saya dengar, saya lupa; apa yang saya lihat, saya ingat dan apa yang saya lakukan, saya paham. Terlihat disini bahwa pemilihan media mempengaruhi ketercapaian tujuan pembelajaran. Berdasar pada piramida pengalaman Dale, media dan keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran sangat mempengaruhi penguasaan materi. Semakin aktif peserta didik dalam proses pembelajaran, semakin baik penguasaan siswa terhadap materi. Penggunakan multimedia (interaktif) dimana pengguna langsung melakukan, diyakini dapat membantu meningkatkan pemahaman siswa terhadap informasi pembelajaran yang diterimanya. Kemandirian peserta didik menjadi sangat penting, sementara guru/pendidik lebih berfungsi sebagai fasilitator.
Sementara itu untuk pembelajaran aktif, Mel Silberman: seorang psikolog di Temple University, yang lebih dikenal sebagai pelopor pembelajaran aktif, menyatakan bahwa apa yang ia sebut paham belajar aktif sebagai berikut: apa yang saya dengar saya lupa; apa yang saya dengar dan lihat, saya ingat sedikit; apa yang saya dengar, lihat, dan tanyakan atau diskusikan, saya mulai paham; apa yang saya dengar, lihat, diskusikan, dan lakukan, saya memperoleh pengetahuan dan keterampilan; dan apa yang saya ajarkan pada orang lain, saya menguasainya.
Pembeda jelas proses pembelajaran aktif Mel Silberman dan proses belajar yang dikemukakan Confucius adalah bahwa penguasaan (mastering) diperoleh setelah pengetahuan yang dimiliki ”diajarkan” pada orang lain. Adalah manusiawi bahwa setiap individu dapat berkomunikasi, tapi persoalannya menjadi sedikit berbeda saat yang harus dikomunikasikan adalah pesan/informasi pembelajaran, atau boleh dikatakan bahwa tidak semua orang merasa bisa mentransformasikan pengetahuan dalam proses pembelajaran. Diskusi berikut adalah, apakah multimedia interaktif, seperti yang dibahas sebelumnya, mampu menggantikan proses pembelajaran yang dicirikan dengan interaksi pembawa informasi (guru/pendidik) dan penerima informasi (peserta didik). Sementara itu, sebagian orang merasa tidak memiliki ketrampilan untuk mengajarkan kembali pengetahuan, padahal itu merupakan ciri tertinggi dalam capaian kompetensi.
Ketrampilan Mengajar
Keterampilan dasar mengajar tersebut meliputi delapan keterampilan yang dapat digunakan “guru” selama “proses belajar mengajar” yaitu keterampilan; 1. membuka dan menutup pelajaran, 2. menjelaskan, 3. bertanya (dasar dan lanjut), 4. memberikan penguatan, 5. mengadakan variasi, 6. membimbing diskusi kelompok kecil, 7. mengelola kelas, 8. mengajar kelompok kecil dan perseorangan. Ke-delapan ketrampilan mengajar tersebut merupakan ketrampilan yang utuh dan terintegrasi dalam komunikasi pembelajaran.
Masing-masing secara singkat dapat dijelaskan sebagai berikut:
- Membuka dan menutup pelajaran: Kegiatan membuka dan menutup pelajaran tidak hanya dilakukan pada awal/akhir pelajaran saja melainkan juga pada awal/akhir setiap penggal kegiatan, misalnya, pada saat memulai/mengakhiri kegiatan tanya jawab, mengenalkan konsep baru, menindaklanjuti pekerjaan rumah yang telah dikerjakan siswa, memulai/mengakhiri kegiatan diskusi, mengawali/mengakhiri pengerjaan tugas, dan lain-lainnya.
- Menjelaskan: Pengertian menjelaskan dalam kaitannya dengan kegiatan pembelajaran mengacu kepada perbuatan mengorganisasikan materi pelajaran dalam tata urutan yang terencana dan sistematis sehingga dalam penyajiannya siswa dengan mudah dapat memahaminya.
- Bertanya: Pada hakikatnya melalui bertanya akan diketahui dan didapatkan informasi tentang apa saja yang ingin diketahui. Dikaitkan dengan proses pembelajaran maka kegiatan bertanya jawab antara guru dan siswa, serta antara siswa ini menunjukkan adanya interaksi dikelas yang dinamis dan multi arah.
- Memberikan penguatan: Penguatan adalah respons terhadap suatu perilaku yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali perilaku itu.
- Mengadakan variasi: Variasi mengandung makna perbedaan. Dalam kegiatan pembelajaran, pengertian variasi merujuk pada tindakan dan perbuatan fasilitator/dosen, yang disengaja ataupun secara spontan, yang dimaksudkan untuk memacu dan mengikat perhatian peserta didik selama pelajaran berlangsung.
- Membimbing diskusi kelompok kecil: diskusi merupakan metode pembelajaran yang menekankan interaksi antar peserta didik. Metode ini mendorong siswa untuk bisa menjelaskan kembali pada teman sebaya (tataran tertinggi kompetnsi) dan memiliki keberanian aktualisasi diri dalam interaksi sosial.
- Mengelola kelas: Pengelolaan kelas adalah seperangkat kegiatan untuk mengembangkan tingkah laku siswa yang diinginkan, mengulang atau meniadakan tingkah laku yang tidak diinginkan, dengan hubungan-hubungan inter personal dan iklim sosio emosional yang positif serta mengembangkan dan mempermudah organisasi kelas yang efektif.
- Mengajar kelompok kecil dan perseorangan: berfungsi baik dalam pembelajaran remidiasi dan pengayaan. Mengajar kelompok kecil dan perorangan merupakan bentuk mengajar klasikal biasa yang memungkinkan fasilitator/dosen dalam waktu yang sama menghadapi beberapa kelompok kecil yang belajar secara kelompok dan beberapa orang siswa yang bekerja atau belajar secara perorangan.
Ketrampilan dasar yang dipaparkan di atas jelas memperihatkan pola interaksi social yang terjadi (secara langsung) dalam komunikasi pembelajaran (guru dan siswa). Peranyaannya adalah: Bisakah interaksi social yang tercakup dalam delapan ketrampilan dasar mengajar dapat digantikan menggunakan multimedia intraktif??
Tidak dipungkiri bahwa tidak semua pendidik (yang memiliki delapan kemampuan dasar mengajar) memilki kemampuan pengembangan media pembelajaran. Sebaliknya individu yang memiliki kemampuan melakukan pengembangan media tidak secara teknis mampu mengimplementasikan kemampuan dasar megajar. Dibutuhkan sepesialis materi, spesialis desain instruksional dan spesialis pengembangan media untuk menghasilkan mekanisme komunikasi pembelajaran yang optimal. Akan lebih baik bila ketiga kemampuan ini dimiliki oleh satu orang (guru), kalaupun tidak maka merancang interaksi sosial dalam proses pembelajarn harus dilakukan bersama agar tujuan pembelajaran dapat dengan mudah dicapai oleh peserta didik.
Interaksi sosial dalam multimedia pembelajaran
Sejauh ini, multimedia pembelajaran hanya difungsikan untuk mentrasformasikan pengetahuan (kognitif) saja. Multimedia tak ubahnya hanya berupa kumpulan sumber belajar yang dirancang agar peserta didik secara “aktif” mentransformasikan pengetahuan yang ada di dalamnya secara mandiri. Intaraksi sosial dalam bentuk proses pembelajaran jarang dikemas dalam multimedia pembelajaran, kalaupun ada, hanya melekat secara normatif tanpa rencana.
Interaktifitas multimedia (terutama yang berbasis komputer) lebih menekankan interaksi yang melibatkan fisik dan mental pengguna mulai dari yang sederhana (menekan keyboard atau klik mouse) sampai interaksi komplek dalam bentuk simulasi (entering values). Interaktifitas yang muncul lebih pada penguatan pemahaman materi dengan langkah (urutan) yang disukai (termasuk privasi) peserta didik hingga memungkinkan pengulangan tanpa batasan waktu dan tempat.
Interaksi sosial yang mampu membangkitkan kampuan motorik dan afektif masih perlu dikembangkan dalam multimedia pembelajaran. “Sentuhan” virtual perlu dikemas dalam satu proses komunikasi pembelajaran yang terintegrasi. Era kebangkitan web 2.0 memungkinkan itu semua dapat terjadi, walaupun hanya sebatas acungan jempol, sentuhan virtual dalam multimedia pembelajaran harus mulai dilakukan.
Sumber Bacaan
Arisadi, 2009, Multimedia dalam Dunia Pendidikan, http://ariasdimultimedia.wordpress.com/ 2009/03/16/multimedia-dalam-dunia-pendidikan/ (diakses 15 Nopember 2010)
Aristo Hadi Sutopo, 2003, Multimedia Interaktif dengan Flash, Graha Ilmu
Leslie Rae, 2005, Memaksimalkan Potensi Alat Bantu dalam Pendidikan dan Latihan, alih bahasa: Nur Basuki Rachmanto, Bhuana Ilmu Populer
Mel Silberman, 1999, 101 Ways to Makes Training Active, 2nd Edition, Pffeiffer
Sri Antiah, 2009, Media Pembelajaran, Buku Ajar Program Setrtifikasi Guru
Sugiyanto, 2008, Model-Model Pembelajaran Inovatif, Modul Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru
Tim PEKERTI, 2008, Materi Pelatihan PEKERTI-AA, Lembaga Pengembangan Pendidikan UNS
Budi Legowo
Pusat Pengembangan Teknologi Informasi untuk Pembelajaran
Lembaga Pengembangan Pendidikan Universitas Sebelas Maret
Posted in Uncategorized | No Comments »
September 2nd, 2010 by budi legowo
Ringkasan Metode Pasif dan Aktif
Menjebatani pembagian teknik survei geofisika pasif dan aktif yang akan dibicarak adalah metode listrik dan electromagnet. Secara keseluruhan kedua metode ini memiliki variasi metode survei terbanyak dati semua metode survei geofisika, beberapa dilakukan secara pasif dengan menangkap respon dari medan sumber alamiah, sebagian lagi menggunakan sumber medan aktif.
Sebagaian besar telah digunakan dalam kurun waktu yang lama dalam melakukan ekplorasi interior bumi. Sebagai contoh, metode SP digunakan tahun 1830-an di Cornwall, Inggris oleh Robert Fox untuk menemukan deposit tembaga. Arus listrik alamiah dalam bumi, disebut arus telurric , pertama kali diidentifikasi oleh Peter Barlow pada tahun 1847. Metode EM dikembangkan pada tahun 1920 untuk ekplorasi deposit-deposit logam dasar.
Selain sejumlah besar mereka, grup ini teknik geofisika merupakan beberapa cara tertua mengeksplorasi interior bumi. Misalnya metode SP yang diuraikan di bawah tanggal kembali ke tahun 1830-an ketika digunakan di Cornwall, Inggris oleh Robert Fox untuk menemukan ekstensi dari deposito tembaga dikenal. Alam arus listrik di Bumi, disebut sebagai arus dr bumi pertama kali diidentifikasi oleh Peter Barlow (digambarkan) pada tahun 1847. Metode EM dikembangkan pada tahun 1920 untuk deposito eksplorasi dasar-logam.
Dasar metode ‘listrik’ adalah melakukan pengukuran dari efek penjalaran arus listrik dalam bumi. Fenomena yang dapat diukur meliputi, arus, tegangan dan medan elektromagnetik. Dibawah ini disampaikan ringkasan beberapa metode lisrik.
Rersistivitas DC, ini merupakan metode pengukuran aktif menggunakan potensial listrik yang merupakan respon penjalaran arus DC dibwah permukaan bumi. Faktor yang mempengaruhi hasil pengukuran potensial digunakan sebagai dasar interpreasi , termasuk dalam menentukan keberadaan dan kualitas lapisan pori dan tanah liat. Diskusi selanjutnya berfokus pada metode ini
Polarisasi Terimbas (Induced Polarization -IP) , ini adalah metode aktif yang umum dilakukan dalam kaitannya dengan tahanan DC. Metode ini mengukur variasi transient jangka pendek sebagai respon potensial dari arus yang awalnya diinjeksikan lalu dihilangkan dari dalam tanah. Telah diamati bahwa bila arus listrik diterapkan pada tanah, tanah berperilaku seperti sebuah kapasitor. Yang diamati adalah polarisasi hasil induksi arus. IP umumnya digunakan untuk mendeteksi konsentrasi dari tanah liat, dan listrik konduktif butiran mineral logam.
Self Potensial (SP) – ini adalah metode pasif yang dengan melakukan pengukuran potensi listrik yang terjadi secara alami umumnya terkait dengan konduktor listrik dangkal, seperti lapisan bijih sulfida. Potensi listrik yang terukur juga diamati dalam kaitannya dengan aliran air tanah dan beberapa proses biologis tertentu. Peralatan yang dibutuhkan survei SP adalah voltmeter impedansi tinggi dan beberapa teknik untuk memerbaiki kontak listrik dalam tanah tanah.
Elektromagnetik (EM), merupakan metode aktif dengan melakukan pengukuran medan magnet yang berubah terhadap waktu yang dihasilkan oleh aliran arus induksi dalam bumi. Variasi arus litrik induksi dalam bumi menyebabkan perubahan medan magnet dipermukaan bumi. Reciver di rancang untuk membandingkan medan magnet yang dihasilkan secara alimiah dan di bangkitkan secara aktif. EM digunakan untuk mengidentifikasi deposit konduktif-logam dasar, mencari pipa dan kabel yang terpendam, untuk mendeteksi bahan peladak yang terkubur dan tidak meledak, serta untuk pemetaan geofisika dekat-permukaan.
Magnetotelluric (MT) – ini adalah metode pasif yang mengukur arus listrik alami dalam bumi, yang dihasilkan oleh induksi magnetik dari arus listrik di ionosfer. Metode ini dapat digunakan untuk menentukan sifat listrik bahan pada kedalaman yang relatif besar (termasuk mantel) di dalam bumi. Dengan teknik ini, variasi waktu pada potensi listrik diukur pada stasiun pangkalan dan stasiun survei. Perbedaan pada sinyal tercatat digunakan untuk memperkirakan distribusi resistivitas listrik bawah permukaan.
Posted in Mulang, Penelitian | No Comments »
September 2nd, 2010 by budi legowo
Survei Geofisika (Aktif dan Pasif)
Berdasarkan sumber medan yang digunakan, secara garis besar, survey geofisika dibedakan dalam pengukuran pasif dan pengukuran. Pengukuran pasif dilakukan dengan memenfaatkan sumber medan yang merupakan propertis bumi yang ada secara alamiah. Sedangkan pengukuran aktif dilakukan dengan membuat sumber usikan untuk mendaptkan tanggap (respon) bumi sebagai gambaran propertis yang ingin diketahui.
Survei geofisika pasif adalah survey yang dilakukan dengan memanfaatkan “medan”alamiah sebagai bagian propertis bumi. Sebagai contoh survey gravitasi dan survey magnetik. Dalam dua contao tersebut, medan alamiah yang digunakan sebagai sumber pasif adalah medan grafitasi dan medan magnet. Dilakukan pengukuran variasi spasila dari medan sumber pasif untuk menyimpulkan struktur bawah permukaan. Contoh propertis bumi yang lain yang dapat menjadi sumber pasif adalah produk peluruhan bahan radioaktif, medan listrik “tertentu” dan medan elektromagnetik “tertentu”.
Survei geofisika aktif, yang dilakukan adalah menginjeksikan “sinyal” kedalam bumi dan mengukur responnya. Sinyal yang digunkan bisa berupa arus listrik, sumber radioaktif, gelobang elastic, gelombang elektromagnetik. Respon bumi terhadap sinyal yang di injeksikan berkorelasi dengan propertis yang di lalui. Biasanya survey geofisika aktif menggunakan nama sesuai dengan sinyal yang di injeksikan ke dalam bumi.
Survei geofisika, baik pasif maupun aktif sama-sama memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing.
Keuntungan dan kerugian Metode Pengukuran Geofisika Pasif dan Aktif
Berikut ini adalah table daftar beberapa kelebihan dan kekurangan masing-msaing jenis survey pasif dan aktif.
|
Aktif
|
Pasif
|
|
Keuntungan
|
Kerugian
|
Keuntungan
|
Kerugian
|
| Sumber noise (derau) lebih terkontrol |
Karena sumber dan respon harus disediakan oleh pengguna, maka alat yang digunakan jadi lebih komplek |
Hanya membutuhkan peralatan sensor dan pencatat data dari sumber medan alami |
Sumber noise sulit dikendalikan |
| Pengendaian sumber dan sinyalanomali dapat dilakukan dengan lebih baik, karena bidang propagasi umumnya diukur.Simak
Baca secara fonetik |
Operasional lapangan dan kebutuhan logistic lebih komplek serta membutuhkan waktu yang lebih lama |
Operasional lapangan lebih efektif karena medan sumber tersedia, wilayah cakupan survey lebih luas untuk waktu pengukuran yang sama |
Integrasi sumber anomali geologi meliputi cakupan yang luas, sehingga identifikasi anomaly lebih sulit dilakukan |
| Banyak sumber dan tipe penerima respon, sehingga dapat mencakup banyak desain survei. Memiliki fleksibilitas yang tinggi dalam menyelesaikan permasalahan di lapangan |
Kemungkinan cakupan desain survei yang beragam menyebabkan biaya oparasional dan resiko kesalahan atau kegagalan jauh lebih tinggi |
Penggunaan satu atau dua metode yang sudah mapan sehingga pengukuran dapat dilakukan dalam waktu singkat dengan hasil yang baik |
Penggunaan satu atau dua metode yang sudah mapan bisa terasa mengganggu bila diperlukan beberapa penyesuaian berkait sumber anomali yang harus diukur |
| Pengukuran aktif mampu memberikan sejumlah data yang dapat menampilkan rincian secara detail struktur bawah permukaan |
Banyaknya data yang diperoleh seringkali menyulitkan penyimpanan dan interpretasi |
Seting interpretasi dapat dilakukan dengan seting komputasi sederhana dan cepat untuk data yang terbatas |
Data yang terbatas seringkali tidak memungkinkan untuk interpretasi secara rinci |
Posted in Mulang, Penelitian, Uncategorized | No Comments »
August 31st, 2010 by budi legowo
IDENTIFIKASI PENCEMARAN AIR TANAH DENGAN METODE GEOLISTRIK DI WILAYAH NGRINGO JATEN KARANGANYAR
ABSTRAK
Telah dilakukan survei geolistrik resistivitas sounding dengan konfigurasi Schlumberger sebanyak 4 titik sounding di Desa Ngringo Kecamatan Jaten Kabupaten Karanganyar. Pengukuran resistivitas menggunakan Resistivitimeter OYO model 2119C. Pengolahan data dilakukan dengan IPI2Win Ver. 2.6.3a, dengan hasil pengolahan berupa kedalaman, ketebalan dan jumlah perlapisan serta harga resistivitasnya. Hasil pengolahan ditentukan berdasarkan rekomendasi model dengan persentase error terkecil yang mengacu pada informasi pemetaan isokonduktiviti, geologi, dan data sumur penduduk. Hasil penelitian yaitu persebaran pencemaran airtanah di Desa Ngringo tidak merata. Pencemaran diidentifikasi pada kedalaman 13,6 – 23,6 meter dengan arah aliran dari Utara ke Selatan dengan daerah persebaran di Selatan dan pada kedalaman 7,5 – 60 meter dengan arah aliran dari Barat ke Timur dengan daerah persebaran di Timur. Pencemaran airtanah tidak terjadi pada daerah persebaran sebelah Utara dengan akifer teridentifikasi pada kedalaman 157 meter. Persebaran pencemaran airtanah secara keseluruhan di Desa Ngringo Kecamatan Jaten tidak merata, pencemaran terjadi akibat rembesan pencemaran dari sungai pada daerah dengan radius kurang dari 1 km dari sungai.
Kata kunci : resistivitas, isokonduktiviti, pencemaran airtanah, arah persebaran
Lean Wijaya, Budi Legowo, Ari Handono Ramelan
prosiding
Posted in Penelitian | No Comments »
August 18th, 2010 by budi legowo
PEMETAAN PHYSICAL PROPERTIES UNTUK ANALISIS KENYAMANAN RUANG SD INPRES
Budi Legowo, Artono Dwijo Sutomo

http://nabire.wordpress.com/2008/07/27/sd-negeri-inpres-kalibobo/
Abstrak
Telah dilakukan penentuan kenyamanan ruangan kelas Sekolah Dasar Inpres berdasarkan pengukuran physical properties: distribusi kebisingan, distribusi pencahayaan dan distribusi suhu. Pengolahan data menggunakan software Matlab 6.1 dan perhitungan waktu dengung menggunakan software Sabin 3.0. Pengukuran kenyamanan ruang dilakukan pada jam pertama pukul 07.00 – 09.00, jam kedua pada pukul 09.15 – 11.00 dan jam ketiga pada pukul 11.15 – 13.00. Hasil pengukuran distribusi kebisingan menunjukkan bahwa tingkat tekanan suara merata disetiap jam pelajaran. Hasil pengukuran distribusi pencahayaan menunjukkan bahwa pencahayaan semakin meningkat pada jam ketiga. Hasil pengukuran distribusi suhu menunjukkan bahwa suhu semakin meningkat pada jam ketiga. Waktu dengung ruang kelas antara 3,14 sampai 3,39 detik..
Laboratorium Gefisika dan Akustik Jurusan Fisika
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sebelas Maret
Posted in Penelitian | No Comments »
August 11th, 2010 by budi legowo
identifikasi STRUKTUR, VISKOSITAS INTRINSIK, dan MASSA molekul viskositas KOMPOSIT BUSA SEL TERBUKA POLYURETHANE MDI/PEG – EXPANCEL MICROSPHERE

http://www.mutr.co.uk
Budi Legowo, Harjana, M. Masykuri, dan Iwan Yahya, Ika Maryani,
Chitra Ayu Respati Putri, Tri Cahyono, dan Linda Ikka Zain
ABSTRAK
Telah dilakukan penelitian dan pengembangan komposit busa sel terbuka polyurethane MDI/PEG (methylene diphenylisocyanate/polyethylene glycol) dengan aditif expancel microsphere sebagai physical blowing agent. Tujuan penelitian adalah untuk menentukan struktur kimia, viskositas intrinsik, dan massa molekul viskositas sebagai salah satu parameter penting untuk meramalkan karakter fisik komposit busa sel terbuka polyurethane MDI/PEG – expancel microsphere. Sintesis dilakukan menggunakan metode satu tahap (one step method). Identifikasi struktur kimia dilakukan menggunakan spektrometri FTIR, sedangkan viskositas intrinsik dan massa molekul viskositas diukur menggunakan viskometer Ostwald dengan pelarut tetrahydrofuran (THF) pada suhu kamar. Hasil penelitian menunjukkan reaksi antara 4,4-methylene diphenylisocyanate (MDI) dengan polyethylene glycol 400 (PEG-400) telah berhasil menghasilkan produk polyurethane yang dibuktikan terbentuknya pita serapan pada daerah 3300 cm-1 (regang N-H uretan), 1740 cm-1 (regang C=O uretan bebas), dan 1020 cm-1 (regang C-O-C) akibat adanya gugus uretan. Dilihat dari hubungan viskositas intrinsik dan massa molekul rata-rata viskositas dengan nisbah segmen keras/segmen lunak (HS/SS) polyurethane, pada nisbah HS/SS 1,0 sampai 1,3, semakin besar nisbah HS/SS mampu meningkatkan viskositas intrinsik dan massa molekul polyurethane. Hal ini disebabkan penambahan HS dalam reaksi menyebabkan rantai polimer bertambah panjang. Penambahan MDI lebih lanjut menyebabkan MDI tersebut sukar bercampur dan bereaksi dengan rantai polyurethane yang sudah ada. Dengan demikian panjang rantai relatif tidak berubah dan viskositas intrinsiknya pun relatif tetap. Massa molekul viskositas komposit busa sel terbuka polyurethane MDI/PEG (methylene diphenylisocyanate/polyethylene glycol) dengan aditif expancel microsphere berdasarkan persamaan Mark-Houwink-Sakurada berkisar antara 2,7. 105 – 4,5. 105.
Kata kunci: struktur kimia, viskositas intrinsik, massa molekul viskositas, busa polyurethane MDI/PEG, expancel microsphere.
Jurusan Fisika FMIPA dan Program Studi Kimia PMIPA FKIP Universitas Sebelas Maret
Posted in Penelitian | No Comments »
« Previous Entries