Budi Legowo

Membangun “CITRA” tidak cukup hanya “CERITA”

May 23rd, 2009 by budi legowo


Catatan Workshop “Pencitraan Lembaga Lewat Media Massa” SOLOPOS 20-22 April 2009

Banyak uapaya yang dilakukan lembaga untuk mengangkat citra pada publik.  Institusi pendidikan pun tak luput dari upaya menarik simpati dengan berusaha membuat citra sebaik mungkin.  Paling banyak dilakukan (karena mudah) adalah membangun citra secara visual. Banyak yang sudah mengenakan seragam secara khusus, setup kantor secara eksklusif dan membuat simbol-simbol untuk mengangkat karakter lembaga. Ada pula yang mencoba membangun citra dengan cara verbal. Membuat iklan, talkshow, tulisan di media massa dan bentuk verbal lisan maupun tulisan dengan memanfaatkan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi saat ini.

Simbol citra lembaga sering kali menjadi tujuan akhir, bukan sebuah tonggak awal untuk senantiasa berbuat seperti citra yang sudah dibuat..bahkan..lebih baik lagi.  Ambil contoh, akreditasi program studi, yang “akhirnya”  menjadi simbol keberhasilan mencapai citra yang diinginkan.  Capaian akreditasi dengan nilai A menjadi sebuah tujuan akhir..padahal…seharusnya menjadi titik awal untuk memenuhi janji senantiasa bersikap A pada setiap kegiatan prom studi tersebut.

Capain lebih tinggi yang ingin dicapai institusi pendidikan tinggi saat ini adalah bersanding di peringkat yang diaukui oleh dunia.  Salah satu yang banyak digunakan sebagai tolok ukur adalah capaian peringkat webomteric. Segala upaya diilakukan untuk mengangkat peringkat hingga mencapai digit sekecil mungkin.  Himbauan semua pendukung institusi untuk senantiasa membantu mendongkrak capaian maksimal ini senantiasa disampaikan.  Rapat kerja, workshop, seminar dan entah apa lagi….tapi semua hanya berakhir pada ukapan verbal yang seringkali tidak mengangkat citra, tapi berakhir pada keterpurukan karena salah dalam ber”cerita”. Kesombongan sering menempel bila citra yang kita inginkan telah berhasil kita peroleh. Kita sering lupa citra yang akhirnya melekat adalah AMANAH.

Semakin banyak kita ber”cerita” semakin dekat kita dengan kegagalan membawa CITRA


Posted in rAsan-rAsan | 1 Comment »

Menentukan titik api

May 8th, 2009 by budi legowo


Sebuah diskusi dalam kuliah Fisika LIngkungan…11 Mei 2009

Sesi kuliah Cahaya dan Sinar…sebuah pertanyaan tentang fokus lensa..bagaimana menentukannya.

Waktu praktikum fisika dasar (di undip dulu) untuk topik optik geometri, menentukan fokus lensa cembung ketemu, dilanjut lensa cekung nggak ketemu-ketemu..jadi ingat…dimarahin asisten (yang kebetulan anak matematika). Untungnya jadi pemicu semangat untuk lebih tahu…Praktik kedua …berhasil dengan sukses.

Waktu anakku (yang masih SD) pulang sekolah bawa mainan, lup kecil yang dibeli Rp.500 dari pedagang mainan depan sekolah, tanpa ganti baju langsung ngajak ke teras rumah dibawah terik matahari dengan membawa secarik kertas. Seperti cerita gurunya, kertas akan terbakar kalau jarak lup tepat pada titik tercerah.  Sedikit perjuangan memegang lup dibawah terik matahari.dan ..ABRAKADABRA…ertas terbakar.

Waktu di kelas, sang guru lupa bercerita..bahwa yang dialakukan dengan lup merupakan praktik sains sederhana penentuan fokus lensa cembung.  Jika ditambah mistar dan alat tulis untuk mencatat hasil…dan ditambah instruksi..sebelum sempat terbakar, saat tepat pada titik paling terang di atas kertas segera diukur jarak antara kertas dan lup..sianak sedang praktikum optik geometri.  Memang titik api adalah fokus lensa  cembung…anak akan difahamkan pada pengukuran nilai fisis dari gejala fisika yang ada disekitarnya.

Waktu lulus dan masuk sekolah menengah…praktikum jadi perlu ditingkatkan menjadi eksperimen.  Seperti gambar dalam buku teks…siswa akan menyiapkan lilin sebagai sumber cahaya sekaligus benda yang diamati, lensa yang akan ditentukan fakusnya dan selembar kertas untuk menangkap cahaya yang diteruskan.  Lilin, lensa dan kertas (layar) ditempatkan dalam satu lajur, dengan menetapkan jarak lilin ke lensa dan mengerakkan layar hingga ditemukan cahaya paling terang, dapat ditentukan jarak benda (s) lilin- lensa dan jarak bayangan (s’) lensa-layar.  Fokusnya??  Cari rumus hitung fokus di buku teks!!

Waktu ada tantangan baru..bagaimana bila benda berada dalam kuadran 1, 2, 3 dan atau 4.  Perlu dilakukan eksperimen lagi. Susunan lilin-lensa-layar akan berbeda, hasilnya..sifat berkas sinar akan diketahui. Gambar-gambar di buku teks jelas..tapi akan menjadi pengalaman menarik bila dilakukan langsung untuk praktikum.

Waktu di berikan lensa cekung untuk menentukan fokusnya, menjadi tantangan tersendiri.


Posted in Mulang | No Comments »

KRS (Kartu Bencana Studi)

May 5th, 2009 by budi legowo


Catatan tugas sebagai Pembimbing Akademik

Minimal dua kali dalam satu semester, mahasiswa akan bertemu dengan kita (PA), saat mengajukan rencana studi (KRS) dan minta hasil studi (KHS). Rencana studi mahasiswa disusun berdasar pada capaian IP semseter berjalan. Semakin tinggi capaian hasil studi mahasiswa, SKS yang diambil bisa semakin banyak. Semakin banyak ambil SKS berarti semakin cepet lulus…???…

Coba kita berhitung…untuk lulus sarjana strata satu,  mahasiswa diwajibkan untuk menyelesaikan 144 sks. Bila masa studi normal S1 adalah 4 tahun (8 semester), maka tiap semester mahasiswa cukup mengambil 18 sks. Ini sks normal dengan capaian IP 2. Bila 1 sks berasumsi 3 jam belajar, berati mahasiswa memiliki waktu belajar 10 jam perhari untuk hitungan 5 hari kerja.

Rencana studi mahasiswa yang tertuang dalam  Kartu Rencana Studi hanya berisi simbol mata kuliah yang akan diambil selama kurun waktu satu semester yang akan datang.  Kebanyakan mahasiswa tidak merencanakan hasil studi untuk tiap mata kuliah yang diambil.  Rencana hasil studi diharapkan membawa perubahan prilaku belajar mahasiswa menuju arah yang lebih positif.   Dengan mengukur potensi yang dimiliki, tentunya mahasiswa dapat merencanakan capain hasil studi yang dinginkan.  Usaha maksimum dibutuhkan untuk mencapai hasil optimal dalam rencana studi.  Bahkan orang tua yang tahu rencana hasil studi anaknya tidak cukup hanya mendo’akan…harus di serta usaha yang lebih maksimal seperti meberi waktu belajar lebih (lepas dari pekerjaan domestik yang harus ditanggung), memberikan fasilitas belajar yang memadai dan memberi suport moril untuk menjaga semangat belajarnya.

Kartu Rencana Studi yang tidak di barengi dengan rencana hasil studi..dan tidak disertai kerja keras untuk mencapainya..niscaya akan menjadi KARTU BENCANA STUDI… ingat R dan B hanya beda dibentuk kakinya..untuk dapat berlari..


Posted in Mulang | No Comments »

Bikin “lempung” untuk bikin “gunung”

April 2nd, 2009 by budi legowo


Plastisin gak aman untuk anak-anak.

Yang aman? Buat sendiri:

Siapkan bahan berikut, 1/2 mangkuk tepung, 1/4 garam, air dan minyak goreng secukupnya.  Uleni dengan tangan, tambahkan air sedikit demi sedikit, tambah minya goreng supaya tidak mudah pecah.  Bagi beberapa bagian, tambahkan pewarna makanan untuk warna yang berbeda. Bila tidak langsung digunakan bungkus dengan plastik, masukkan kulkas.

Lepung sudah siap: mau bikin apa sekarang…Buat hewan kecil bisa, guci-gucian boleh, bunga  dll. Biar awet bisa di oven.  Jadi keramik deh..

Bisa untuk buat gunung meletus lhoo…

Lempung yang sudah siap dibuat membentuk gunung, beri gelas kecil di ujung puncaknya (kaya kawah gitu). Siapkan bahan pendukung lain: Soda kue, cuka dan air untuk pengencer.  Boleh ditambah detergen dan pewarna merah supaya lebih heboooohhhh.

Model gunung siap… Masukkan soda kue secukupnya (tergantung besarnya “kawah” yang dibuat), detergen cair, trus masukkan air cuka yang sudah diencerkan dengan pewarna.  Lihat reaksinya…

Lahar akan mengalir keluar, asap mengepul dan buih turun sepanjang sisi gunung.


Posted in Dolanan | No Comments »

“Kapal” tusuk gigi

April 2nd, 2009 by budi legowo


Ngobrol tegangan permukaan lagi.  Siapkan bak air kecil (boleh mangkuk, boleh piring) dan beberapa tusuk gigi.  Air dan detergen (boleh colek, bileh cair).

Isi mangkung dengan air (pastikan sebelum digunakan mangkuk dalam kondisi bersih dan kering) setengah penuh biar nggak becek sana-sini. Masukkan dua tusuk gigi, pastikan mengambang di permukaan air. “Kapal” tusuk gigi akan berlayar dengan tenang.

Kita akan coba buat salah satu melaju lebih cepat…

Ambil satu tusuk gigi (lagi) dan basahi ujungnya dengan sabun..celupkan perlahan didekat ujung salah satu ujung “kapal” tusuk gigi kita…Nahhhh…salah satu kapal akan melaju dengan kencang..bisa diulang beberapa kali (sampai puas…bisa bikin balapan biar tambah seru)

Kenapa???

Ada gaya yang menahan tusuk gigi tetap tenang dipermukaan air.  Detergen akan merusak homogenitas distribusi gaya permukaan ini.  Detergen disebut agensia aktif permukaan atau surfaktan.  Akumulasi dipermukaan cairan akan menurunkan tegangan permukaan.  “Pecahnya” tegangan permukaan disalah satu ujung “kapal” akan menggerakkan sesuai arah pecahnya “hambatan”


Posted in Dolanan | No Comments »

Gambar Pemandangan

April 2nd, 2009 by budi legowo


pemandanganku

pemandanganku

Mainan asik….

Bagi kertas (kwarto boleh, folio boleh)…minta peserta menggambar pemandangan, b e b a s …..

Beri waktu sebentar..percaya ndak…sebagian besar peserta akan menggambar: dua buah gunung, dengan matahari ditengahnya (beberapa pakai mata dan ‘rambut’), ada jalan dari sisi kiri (gunung yang kiri) serong ke kanan, yang lengkap mungkin digambari sawah juga.

Padahal TK dan SD nya beda-beda lho…Ada yang dariu kecil dipinggir pantai, ada yang sampai besar di kota, ada yang sampai tua nggak pernah lihat sawah, tapi gambarnya tetap saja “PEMANDANGAN”

Kita sudah merekam gambar pemandangan kita sejak kecil,  dan kebetulan “kurikulum” menggambar pemandangan ya seperti itu.  Kalau gambarnya beda bisa dimarahin bu guru …..

Biar tambah seru…tamba VARIASI

Minta peserta dengan kertas gambarnya membuat, kapal-kapalan dari kertas (kapal-kapalan lho, bukan pesawat).  Hasilnya…..ada yang tidak bisa (nggak pernah TK mungkin) dan yang bisa membuat akan membuat bentuk yang sama: lipat dua, lipat segitiga, balik..ulangi dua kali, balik, TaaaaaRaaaaa.  Kapalnya sama semua (padahal sekolahnya beda-beda lhooo.,,,kurikulumnya sama kali yaaa)

Biar tambah seru (kalau nggak repot sih..) siapkan kertas origami (bunjur sangkar), minta peserta buat kapal lagi….lihat….yang tadinya bisa buat pakai kertas biasa (persegi panjang) ada yang protes karena kertasnya beda..ada ang nekat bikin dengan cara yang sama meski kertasnya beda…

Memang sulit menerima PERBEDAAN


Posted in Dolanan | No Comments »

Urut Gemuk…

April 2nd, 2009 by budi legowo


Inspirasi OBT Kaboa Jurusan Fisika…

Pastikan peserta yang sudah terbagi dalam kelompok kecil (5 – 6 orang…bisa lebih ding) saling mencari data pribadi..berat badan, tinggi badan, nama depan, dll, dst….
Minta peserta berbaris (bisa melingkar atau saling hadap antar dua kelompok). Untuk ”pemanasan” berikan aba-aba untuk membuat urutan sesuai huruf depan nama masing-masing anggota kelompok (gampang…), lajutkan dengan perintah membuat dari kiri ke kanan (atau sebaliknya) dari tinggi ke rendah…mesti cepet wong kelihatan tinggi rendahnya (biar tambah seru bawakan meteran). Lanjutkan menurutkan dari yang paling gemuk ke yang paling kurus (ini juga gampang).
Lanjutkan dengan urutan ciri tubuh yang lain…jangan banyak-banyak..peserta bisa bosan.
Akhiri denga minta peserta berbaris urut dari yang paling cakep….(ini sulit….)

Perhatian:
Mengukur memang lebih mudah, selama ada instrumen dan alat ukurnya
Menilai lebih sulit karena ……


Posted in Dolanan | No Comments »

Pesan terakhir Rasulullah SAW

April 2nd, 2009 by budi legowo


Dikutip dari “Positive Parenting” Mohhamad Fauzil Adhim

Di Masjid Khaif, Rasulullah SAW, berdiri ketika itu.  Tempatnya di Mina, Rasulullah SAW, memandang ribuan jamaah yang hadir untuk berhaji. Kemudian, lisannya yang tidak pernah berdusta itu menyebutkan pujian kepada Allah. Lalu beliau berkhutbah,

“Wahai manusia”, kata Rasulullah SAW berseru,”dengarkan penjelasanku baik-baik, karena aku tidak tahu apakah aku masih berjumpa lagi dengan kalian di tempat ini pada tahun yang akan datang”

Bergetar suara Rasulullah SAW, ketika berucap. Ada isyarat perpisahan yang membuat para shabat tak kuasa menahan air matanya. Mereka menangis. Mereka tak sanggup menahan kesedihan. Rasanya, tak lama lagi sahabat terbaik dan Nabi yang penuh kemuliaan itu akan pergi menghadap Allah ‘Azza wa Jalla. Karena itu, siapa pun yang peka hatinya akan terisak disertai air mata.

Kemudian Rasulullah berkata, “Apakah aku sudah menyampaikan risalah Tuhanku kepada kalian?”

Para sahabat menjawab dengan suara serentak, dengan gemuruh yang sama, dan dengan jawaban yang sama, “Benar. engkau sudah menyampaikan risalah kepada kami.”

“Allahumma isyhad. Ya Allah, saksikanlah!” Sebagian sahabat sudah tidak sanggup lagi menahan tangisan mereka.  Mereka mengetahui bahwa tugas Nabi sudah berakhir.

“Wahai manusia”, begitu kata Nabi selanjutnya, ” Hendaknya yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir. Tahukah kalian hari apakah sekarang ini?”

“Hari yang suci”

“Negeri apakah ini?”

“Negeri yang suci”

“Bulan apakah ini?”

“Bulan yang suci”

“Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, kehormatan kalian, sama sucinya dengan hari ini, negeri ini, pada bulan ini.  Sesungguhnya kaum Mukmin itu bersaudara. Tidak boleh ditumpahkan darahnya. Tuhan kalian satu. Bapak kalian semuanya Adam dan Adam dari Tanah. Sesungguhnya yang paling mulia disisi Allah ialah yang paling takwa. Tidak ada kelebihan orang Arab di atas orang asing kecuali takwanya. Apakah aku sudah menyampaikan kepada kalian?”

Suara sahabat bergemuruh. Mereka menjawab, “Benar”. Begitulah setiap kali Nabi menyampaikan satu bagian nasihatnya, beliau mengakhirinya dengan “apakah aku sudah menyampaikan kepada kalian?” dan para sahabat menjawab serentak dengan “Benar”.

Setiap beliau memulai bagian nasihatnya, beliau berkata, “Simaklah pembicaraanku, kalian akan memperoleh mafaat sesudah aku tiada. Pahamilah baik-baik supaya kalian memperoleh kemenangan.”

Jika pesan-pesan Rasullullah SAW kita ajarkan dirumah-rumah, di kelompok-kelompok bermain, taman kanak-kanak, sekolah dasar hingga jenjang pendidikan yang lebih tinggi, niscaya anak-anak kita akan memiliki jiwa yang besar.  Mereka akanmmemiliki rasa percaya diri yang tinggi, konsep diri yang baik, pikiran yang terbuka, dada yang lapang dan harga diri yang kukuh.


Posted in Mulang | No Comments »

Pakai OHP

April 1st, 2009 by budi legowo


Menyiapkan potongan film pendek optimalisasi penggunaan OHP untuk mengajar..terutama..fisika.

Tidak banyaksih…tapi seneng juga

Mencampur warna, dengan modal selembar OHT dan sisa tinta printer (merah, kuning dan biru) jadilah melukis campuran warna primer yang bisa diproyeksikan ke layar.  Merah dan kuning gak ada masalah…birunya sedikit susah, teralu gelap (kurang encer)…hari kedua OK

Interferensi gelombang, sedikit repot bikin ‘bak air’ kecil pakai OHT, lipat sana-sini, beri perekat sana-sini..nggak bocor…amannn.  Taruh di atas OHP, beri air setengah tinggi bak…mulai deh bikin gelombang..pakai tusuk gigi usik acak. tambah semangat pakai dua tusuk gigi.  Interferensi nggak begitu terlihat…ruangan terlalu terang.  Penyesuaian sana-sini usikan dipertegas, pola proyeksi kediinding MEMUASKAN.  Besok ditambah penggetar …pakai motor listrik kecil…atau…pakai vibrate HP ya?…perlu dicoba nih.

Tegangan permukaan,  masih pakai ‘bak air’..ngambil satu jarum kerudungnya Mbak Sari…admin LPP…Trus ACTION…taruh pelan-pelan di atas air..TAAARAAAA…lho tenggelam.  Harus pelan-pelan, cari pinset dulu. Take 2, ACTION..sekarang pakai pinset..SUKSES..jarum mengambang di atas air karena tegangan permukaan.. Akhirnya …SIPPP..

Kompas, dapat ilham pas tegangan permukaan, ujung jarumnya muter kearah utara.  Jadi deh main kompas.. biar aman…nggak mudah tenggelam…kasih potongan plastik kecil untuk menahan jarum.  Ujung jarum diputar menjauhi utara..pakai tusuk gigi..TOH mesthi balik menunjuk arah utara,  Bilangin KOMPAS…PERCAYAAA!!!

Magnet, pas main kompas nggak nemu tusuk gigi..jadi deh pakai ujung gunting.  Eeeee..malah nempel, baru ingat ujung logam (besi) bisa bersifat magnet, makanya tarik menarik.  Jadilah jarum kompas mainan kapal-kapalan, karena kalau ujung gunting didekatkan ujung jarum selalu mengikuti… lkayak kejar-kejaran gitu…TOP TENAN

Jangka sorong, ingat materi Prof. Sri Anitah…OHT overlay…trus minta tolong om Google nyariin gambar jangka sorong.  Dapet satu bagus..perlu modifikasi.. misah batang utama dan batang nonius. Di edit Yusup (punggawa studio LPP) semalam, paginya diprint di dua OHT, trus ambil gambar.  Nonius bisa digeser-geser kayak beneran, Yusup memang T-O-P-B-G-T-D-A-H.  Biar lengkap bikin billbording satu lagi..gambar botol..take lagi ngukur kedalaman dan lebar bibir boto. SUKSES

Ini dulu..mau menjalani tugas struktural dulu

Gambar sama movienya nyusul S A B A R


Posted in Mulang | No Comments »

Jangan menunggu jadi guru besar untuk menanam pohon

March 27th, 2009 by budi legowo


Pagi ini…suara gergaji menderu disamping tempat kuliah.  Pembangunan gedung tahap tiga dimulai.  Ada kegembiraan…kebutuhan ruang kuliah dan praktik akan segera terpecahkan.  Ada kesedihan…pembangunan selalu didahului “pembukaan lahan”.

Diskusi kecil di ruang administrasi…ada dua pohon besar (jati) yang punya potensi menjadi monumen hidup (20 tahun yang akan datang) dirobohkan dengan mengatasnamakan perluasan akses pendidikan.  Memang tidak dapat “dihindarkan” pohon tetap harus di”tumbangkan”

Beberapa waktu yang lalu…saat pendirian tower untuk semakin mengoptimalkan layanan IT…di”tumbangkan 3 batang pohon besar. Tepat hari bumi internasional, mahasiswa melakukan orasi ditempat lain, saat gergaji menderu mehapus jejak sejarah berdirinya institusi ini.

Pembangunan itu merupakan keniscayaan,  kebutuhan lahan itu sebuah hal yang tidak bisa dihindarkan dan penebangan pohon “penghalang kemajuan” menjadi keharusan.  Pertanyaan besarnya,  “berapa lagi bangunan akan didirikan dan berapa pohon agi akan ditumbangkan?”.  Bukan ini pertanyaan yang harus dilontarkan.  Akan terjadi prasangka buruk, saling tuding karena beda pandangan dan tidak ada titik temu sehingga menimbulkan perpecahan.  Kalau semua tidak dapat dihindarkan, pertanyaan yang harus kita tanam dalam-dalam di hati kita adalah “berapa pohon yang akan kita hidupkan?”

Banyak pahlawan yang mati karena berjuang untuk kemerdekaan, tapi tidak akan membuat matinya pahlawan-pahlawan baru yang akan lahir setelahnya.

Tiap pohon pasti akan mati (pertanyaannya kapan dan karena apa?) Kalau memang satu pohon harus tumbang…lima paohon lain harus siap kita “hidupkan”. Tidak usah menunggu jadi guru besar untuk menam baca; menghidupkan) pohon di institusi ini.  Kalau semu guru mau menghidupkan lima pohon dalam waktu hidupnya, 20 tahun lagi institusi ini tidak akan kehabisan batang pohon untuk dijadikan monumen abadi.

Selamat HARI BUMI …..


Posted in rAsan-rAsan | No Comments »

« Previous Entries

Wordpress Theme powered by Seo, Diseño Web and Viajes Team | Copyright © Budi Legowo