Telor sama Ayam

telorayam

Gambar diambil dari: http://ladangkata.com

Penertiban PKL dimanapun tempatnya dan mengatasnamakan kepentingan apapun selalu berakhir dengan bencana (baca: bentrok). Lagi lagi tibul tanya: yang salah penjual atau pembeli. Duluan mana? penjualnya atau pembelinya? Atau karena himpitan ekonomi “memaksa” orang untuk dapat dengan jeli melihat peluang pasar. Dimanapun, dari Taman Kanak-Kanak sampai Perguruan Tinggi, asongan (baca: PKL) selalu mengerubuti, karena potensi banyaknya calon pembeli. Kerumunan orang yang berolahraga diminggu pagi di suatu openspace di tengah kota juga menjadi sasaran untuk sekedar menawarkan es, kaos kaki 1000/3 sampai alat elektronik dan pertukangan. Anehnya saat kerumunan orang bubar karena kepanasan, para pedagang tetap bertahan dengan segala kesederhanaan (dari tenda sampai kios kecil) untuk tetap menunggu SATPOL PP mengusir karena menyalahgunakan fungsi lahan.

Kondisi yang sama terjadi pada sistem transportasi kita. Halte didirikan dimana-mana tapi tidak digunakan. Banyaknya perusahan transportasi dari angkot, metro mini, bis hingga tran… memaksa sopir angkutan umum untuk berebut penumpang. Entah siapa salah, bila diperempatan banyak calon penumpang menunggu bis, padahal kurang dari 100 meter didekatnya ada halte kosong melompong. Siapa salah pula, bila bis berhenti tepat diperempatan jalan (dan mengganggu pengguna jalan yang lain) untuk mengambil penumpang. Mana yang harus dibetulkan, haltenya yang dipindah diperempatan? Calon penumpang dipaksa nunggu di halte? atau angkutan umum ditilang bila tidak mengambil penumpang di halte yang disediakan? Mungkin jadi “peluang” penguasa daerah untuk jeli, membuat moda transportasi dengan nama TRANS … … … di kotanya.

Ini sama halnya bila ditanya: duluan mana TELOR sama AYAM?