August 11th, 2010 by budi legowo
Pengembangan pembelajaran berbasis web oleh LPP dimulai sejak 2001 dengan hibah P3AI. Penggunaan laman web statis saat itu sangat membatasi interaksi dosen mahasiswa dalam kelas online. Mulai tahun 2001 LPP mencoba mengembangkan CMS (Course Managemant System) antara lain Claroline dan Moodle. Dengan mempertimbangkan stabilitas CMS akhirnya dipilih Moodle sbagai basis pelaksanaan elearning di UNS
Tahun 2004 bekerja sama dengan SEAMOLEC, LPP melakukan workshop penguatan staff pengelola elearning dalam dua sesi pelatihan:1. Workshop Instructional design for elarning dan 2.Workshop e-Portofolio berbasis web yang diikuti oleh staff LPP dan perewakilan Fakultas.
Kerjasama ini dilanjutkan dengan penelitian bersama LPP dengan SEAMOLEC tentang pemanfaatan elearning di UNS. Salah satu hasil penelitian ini berhasil menarik kesimpulan bawaha pemanfaatan elearning di UNS masih bersifat blanded learning, dalam arti elearning dijadikan salah satu sumber belajar dan alat evaluasi pembelajaran atau tidak digunakan secara mandiri dalam perkuliahan
Dalam upaya peningkatan kualitas elearning UNS, LPP telah mengirimkan staff untuk mengikuti workshop/pelatihan pengembangan kuliah online diantaranya: 1. Program JICA tahun 2007 sebanyak satu orang staff, serta 2. Pengelolaan Blended Learning ComLabs ITB tahun 2008 dan 2009 sebanyak 4 orang staff.
Selama dua bulan (Juli-Agustus) 2010 sebanyak 5 orang staff pengembang elearning UNS tengah mengikuti program pengembangan pembelajaran online dalam pogram PTK-Online oleh DBE-USAID. Tiga orang mengikuti program penilai/pendamping kuliah online dan dua orang mengikuti program pengembang kuliah online
Disampaikan sebagai laporan RKPU Agustus 2010
Posted in rAsan-rAsan | No Comments »
August 11th, 2010 by budi legowo
Pendahuluan
LPP merupakan salah satu lembaga di UNS yang berdiri pada tanggal 16 Nopember 2002 berdasar SK Rektor No. 759/J27/KP/2002 yang memiliki fungsi mengkoordinasikan berbagai program pengembangan serta mengatasi berbagai hambatan dan kendala dalam upaya peningkatan kualitas pembelajaran di UNS.
Saat ini LPP mengkoordinasikan dua pusat pengembangan, yaitu Pusat Pengembangan Sistem Pembelajaran (PPSP) dan Pusat Bimbingan Konseling dan Pengembangan Karir (PBKPK) dengan tujuan: 1. membantu pengelolaan pendidikan dalam upaya peningkatan kualitas layanan pendidikan; 2. mengembangkan sistem pembelajaran yang mengarah pada peningkatan kompetensi lulusan; 3. mengembangkan sumber daya untuk mengoptimalkan sumber belajar, melakukan diseminasi dan atau pelatihan pembuatan bahan ajar serta pemanfaatan media pembelajaran; serta 4. mengembangkan sistem bimbingan - konseling dan perencanaan karier.
Sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, LPP menyiapkan instrument pengembangan pendidikan dengan sasaran dosen, mahasiswa dan institusi penyelenggaran pendidikan di UNS dalam bentuk pelatihan dan produk penunjang penyelenggaraan pendidikan berupa panduan, dan aturan standar operasional.
LPP memiliki andil yang cukup besar dalam peyelenggaraan Kurikulum Berbasis Kompetensi sejak di gulirkan tahun 2005 hingga terbitnya Peraturan Rektor No. 553/H 27/PP/2009 tentang Pembelajaran Berbasis Kompetensi dalam Sistem Kredit Semester. LPP memberikan kontribusi pada penyiapan tenaga pendidik profesional untuk melaksanakan KBK yang dikemas dalam pelatihan PEKERTI-AA hingga terbangun sinergi dengan Sistem Pengembangan Profesional Dosen Universitas Sebelas Maret. Instrumen pengembangan bidang pendidikan dalam SPPD sudah sejak lama dikembangan oleh LPP dalam bentuk pelatihan dan pendampingan pembelajaran.
Kontribusi LPP dalam meningkatkan proses pembelajaran juga diwujudkan dengan pendampingan dan konseling mahasiswa dalam menghadapi kesulitan belajar dan pengembangan kareir. Pengembangan profesionalisme dosen pembimbing akademik hingga mampu bertindak sebagai konselor diharapkan tidak hanya mampu menyelesaikan permasalahan akademik tapi juga mampu menjawab persoalan non akademik yang mengganggu capian kompetensi/hasil belajar mahasiwa. Kemampaun adaptasi mahasiwa pada sistem pendidikan tinggi diharapkan dapat mengoptimalkan Angka Efisensi Edukasi di seluruh institusi penyelenggaran pendidikan di UNS.
PEKERTI-AA
Program Peningkatan Keterampilan Dasar Teknik Instruksional (PEKERTI) merupakan pelatihan pengembangan profesionalisme dosen yang diselenggarakan DIKTI sejak tahun 1987 yang diperuntukan bagi dosen-dosen pemula . Applied Approach (AA) merupakan kelanjutan program untuk dosen senior sebagai program penyegaran. Mulai tahun 2005 DIKTI melalui PAU-PPI UT selaku koordinator penyelenggaraan PEKERTI-AA telah merekonstruksi kurikulum PEKERTI dan AA. Hasil rekonstruksi telah dipublikasikan melalu Buletin PEKERTI-AA pada tahun 2007. Hasil rekonstruksi menetapkan Pelatihan PEKERTI-AA sebagai pelatihan tunggal dan terpadu bukan lagi pelatihan terpisah.
Karena perubahan peran DIKTI sebagaimana tertera dalam PP No. 15/2005 dan dalam rangka memberikan otonomi memberikan otonomi sepenuhnya kepada perguruan tinggi, maka mulai tahu 2007, sertifikat program PEKERTI-AA tidak lagi diterbitkan oleh Direktorat Akademik DIKTI, tetapi menjadi tanggungjawab sepenuhnya perguruan tinggi pelaksana program PEKERTI-AA. Sertifikat PEKERTI-AA, baik yang diterbitkan oleh Direktorat Akademik DIKTI (sebelum tahun 2007) maupun yang selanjutnya akan diterbitkan oleh perguruan tinggi pelaksana program PEKERTI-AA, merupakan salah satu bukti keikutsertaan dosen dalam suatu pendidikan profesi, khususnya dalam bidang kompetensi pedagogik.(dikutip dari surat Direktorat Akademik DIKTI no. 0662/D2/2007 perihal PEKERTI-AA tanggal 30 Maret 2007).
PEKERTI-AA menjadi penting dalam pengembangan profesionalisme dosen karena kurikulum yang ditetapkan oleh DIKTI sejalan dengan amanat UU No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Disebutkan bahwa, beban kerja dosen mencakup kegiatan pokok, yaitu perencanaan, pelaksanaan proses, penilaian hasil pembelajaran, pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian. Di samping itu melaksanakan tugas tambahan dan pengabdian kepada masyarakat. Program PEKERTI-AA merupakan program pelatihan yang dirancang Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi untuk peningkatan kompetensi pedagogik bagi para dosen. Bila dicermati lebih dalam produk program pelatihan PEKERTI-AA merupakan instrumen tagihan akreditasi program studi dalam proses pembelajaran. Sejak 2007 LPP UNS, sesuai dengan reonstruksi materi PEKERTI-AA membuat paket program pengembangan proses pembelajaran dari evaluasi kurikulum, instrument pembelajaran dan proses pelaksanaan pembelajaran.
Diawali dengan mengidentifikasi posisi ‘matakuliah’ yang diampu oleh peserta dalam bangun kurikulum (berbasis kompetensi) program studi, peserta PEKERTI-AA diminta untuk membuat analisis kompetensi yang selanjutnya dijabarkan dalam Silabus Mata Kuliah dan Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), ini merupakan bagian tugas dosen dalam merancang dan merencanakan proses pembelajaran. Pergeseran paradigma dari content based menuju competence based memaksa peserta untuk menciptakan pengalaman belajar serta mengembangkan materi dan media pembelajaran sesuai dengan tuntutan kompetensi, ini merupakan bagian pengembangan, karena kompilasi materi dan mediapembelajaran dapat disusun menjadi bahan ajar sesuai dengan kompetensi yang diharapkan.
Insrumen yang dikembangkan dalam PEKERTI-AA dapat menunjang peningkatan kualitas institusi penyelenggara pendidikan khususnya program studi. Dalam Instrumen akreditasi Program S1 tahun 2009 jelas disebutkan bahwa harkat dan peringkat sangat baik diberikan pada program studi yang memiliki sekurang-kurangnya 95% matakuliah yang memiliki deskripsi matakuliah, silbus dan RPP. Bila semua instrument perencanaan pembelajaran (dalamsilbus dan RPP) dilakukan dalam proses pembelajaran maka aspek lain seperti pengembangan kurikulum, ketersediaan bahan ajar, pengembangan failitas elearning, evaluasi proses dan program pembelajaran dengan sendirinya akan terpenuhi.
Tercatat sejak tahun 2005, tidak kurang dari 500 dosen UNS telah mengikuti program pelatihan PEKERTI dan atau PEKERTI-AA. Angka ini baru sekitar 30% dari kurang lebih 1.582 dosen UNS yang menyelesaikan program pelatihan dengan sempurna dan sekaligus memiliki silabus matakuliah yang diharapkan mencapai angka 100% untuk capaian KPI tahun 2010. Tentunya LPP memiliki tugas berat untuk mencapai angka di atas. Perlu dilakukan evaluasi menyeluruh dan dibuat program percepatan untuk pencapaian kualitas PBM yang baik terutama dengan penyusunan perangkat pembelajaran sesuai dengan perkembangan ilmu, teknologi dan kebutuhan masyarakat pengguna lulusan.
Pengembangan Bahan Ajar
Salah satu produk pelatihan PEKERTI-AA adalah pengembangan bahan ajar sesuai silabus matakuliah yang disusun. LPP memfasilitasi pengembangan bahan ajar dalam bentuk cetak dan atau digital. Fasilitasi bahan ajar cetak yang dilakukan oleh LPP adalah penerbitan Buku Teks bekerjasama dengan penerbitan UNS Press. Selain itu LPP juga mengembangkan bahan ajar digital audio visual dan elearning. Ketersedian bahan ajar digital mulai mendapat porsi tesendiri dalam upaya pengembangan fungsional dosen, terbukti dari penghargaan yang diberikan pada produk-produk digital pengembangan pembelajaran dalam draft Pedoman Penilaian Angka Kredit UNS.
Sejak tahun 2005 hingga sekarang, sebagai upaya menjawab kebutuhan ragam sumber belajar di UNS, telah dikembangkan program Buku Teks. Sebanyak 146 judul buku telah berhasil diterbitkan oleh Tim Buku Teks bekerjasama dengan UPT UNS Pres dan tercatat di Perpustakaan Nasional dengan nomor ISBN. Program Buku Teks tahun 2010 di fokuskan pada kegiatan digitalisasi buku teks menjadi bentuk e-book. Program e-BukuTeks yang sedianya di luncurkan pada Pameran IPTEKS Dies Natalis UNS ke-34 diharapkan dapat memenuhi KPI Peningkatan Penulisan buku teks atau e-book; e-journal sebanyak 65 judul pada tahun 2010. Indeks ukuran kualitas buku teks di lihat dari jumlah buku teks yang sudah melalui proses cetak 2 dan atau 3 kali. Tercatat sebanyak 37 judul telah proses cetak 2 dan 5 judul telah proses cetak 3, selanjutnya buku-buku ini akan diprioritaskan dalam program digitalisasi e-BukuTeks.
Sejak bulan September 2007 UNS memiliki situs pembelajaran online dengan nama elearning UNS dengan alamat http://elearning.uns.ac.id/. Program Pengembangan Pembelajaran Berbasis Web dirintis sejak 2003 hingga 2005 dengan dana hibah P3AI. Hingga tahun 2009 tercatat sebanyak 324 matakuliah online telah berhasil dikembangkan melalui pelatihan-pelatihan untuk dosen di semua Fakultas. Angka ini telah melebihi KPI tahun 2010 yang direncanakan sebanyak 250 matakuliah online. Tercatat 3 program studi (Teknik Sipil Fakultas Teknik, Matematika FMIPA dan PGSD FKIP) telah membangun elearning menggunakan dana hibah yang diperoleh. Selama ini elearning UNS di bangun menggunakan Learning Management System (LMS) berbasis Moodle, untuk memenuhi kebutuhan pengguna sedang dikembangkan LMS berbasis Dokeos yang lebih kompatibel untuk perkuliahan-perkuliahan eksakta.
Pengembangan desain instruksional dan e-portofolio dikemas dalam bentuk pelatihan staf pengembang kuliah elearning dari LPP dan perwakilan fakultas bekerja sama dengan Organisasi Menteri Pendidikan se-Asia Tenggara SEAMEO-SEAMOLEC. Desemeniasi program dalam bentuk pelatihan terintegrasi antara mata kuliah klasikal (hasil pelatihan PEKERTI-AA) dan kuliah online dalam bentuk blanded leaerning telah berhasil dikembangkan dari hasil kerjasama ini.
Upaya menyiapkan ragam media dalam pembelajaran senantiasa dilakukan oleh LPP di bawah koordinasi Tim Pengembangan Bahan Ajar. Telah dipersiapkan peluncuran Smartube yang berisi video pembelajaran hasil karya civitas akademik UNS (dosen dan atau mahasiswa) serta Smartbook yang merupakaan program digitalisasi buku teks. Kata SMART dipilih sebagai ikon produk bahan ajar digital sebagai gambaran kecerdasan yang bersumber dari Universitas Sebelas MAReT. Bahan ajar dalam Smartube dan Smartbook akan dapat diunduh dari elearning UNS.
Career Development Centre
Menjalankan fungsi koordinatif pengembangan karier mahasiswa, sejak 2005 LPP secara rutin membuat Info Karier dengan mangundang narasumber yang memiliki kompetensi dalam bidang pekerjaan yang digeluti. Tercatat Untung Wiyono, Bupati Sragen dan Hj. Rina Iriani, Bupati Karanganyar hadir sebagai narasumber dalam acara Info Karier yang diselenggarakan 2 kali tiap semester ini. Beberapa pimpinan perusahan besar di wilayah Solo Raya seperti: Juanaidi Yusuf, Dirut Konimex; Y. Soroso, Dirut PO. Rosalia; Suharto, Dirut. Lembah Hijau Mutifarm hingga Hardono, Ketua Kadin Surakarta telah pula memberikan rahasia kunci sukses masing-masing. Sedikitnya 200 mhasiswa tingkat akhir dan atau alumni selalu antusias mengikuti tiap sesi Info Karier yang diselenggarakan. Peserta Info Karier terbanyak tercatat tidak kurang dari 500 orang menghadiri sesi Motivasi Karier yang disampaikan oleh Tung Desem Waringin, seorang Motivator tingkat Nasional yang juga mrupakan alumni Fakultas Hukum Univeritas Sebelas Maret.
CDC sangat dibutuhkan sebagai jalur komunikasi lulusan UNS dengan pengguna lulusan. Sejak awal 2010 CDC dikelola secara terpusat di bawah koordinasi bidang III. LPP mengambil posisi sebagai penunjang bimbingan karier dalam evaluasi kurikulum dan proses selama mahasiswa masih aktif (belum lulus)
Program Kerjasama Dunia Usaha dan Industri
Pengembangan sistem jaringan kerjasama UNS dengan dunia usaha dan industri diperlukan agar lulusan UNS maupun mahasiswa mudah menyalurkan minat dan kemampuannya kedalam dunia usaha maupun industri yang sesuai dengan bakatnya. Dengan demikian para lulusan/mahasiswa termotivasi untuk bekerja dalam dunia usaha, sesuai dengan kinerja dari bidang usaha maupun industri tersebut. Dunia usaha dan industri mendapatkan karyawan yang minat kerjanya tinggi sehingga mereka dapat menghasilkan produk kerja yang optimal dan berkualitas. Bagaimana bentukdan pola kerjasama harus dipikirkan bersama antara UNS dengan para usahawan.
Kegiatan pengembangan ini dilakukan melalui tahap-tahap konseptual (1) analisis kebutuhan, (2) studi kebutuhan pasar kerja (3) penyusunan draft yang meliputi perumusan tujuan, pengembangan materi atau isi, menyusun alat evaluasi, (4) melakukan pertemuan dengan para usahawan untuk memberikan gambaran tentang kebutuhan SDM maupun kualifikasinya(5) mengadakan diskusi tentang sistem jaringan kerjasama UNS-dunia usaha.Tahapan-tahapan kerja yang akan dilakukan berupa: (1)penyediaan sarana prasarana, (2) semiloka dengan mengundang pakar kerjasama UNS-dunia usahawan dan industriawan, akhir September 2009 (3) pembuatan sistem jaringan kerjasama UNS-Dunia usaha dan industri.
Penutup
Sebagai lembaga pengembangan, LPP memberikan kontribusi dalam bentuk upaya meningkatkan kulaitas proses dan program pembelajaran. Peningaktan angka efisiensi edukasi (AEE) program studi diharapkan dapat tercapai dengan kepedulian institusi penyelenggaraan pendidikan tinggi di UNS dalam implementasi pegembangan yang dilakukan oleh LPP.
Disampaikan dalam Lokakarya Teaching Excellence
Lembaga Pengembangan Pendidikan Universitas Sebelas Maret
Posted in rAsan-rAsan | No Comments »
May 23rd, 2009 by budi legowo
Catatan Workshop “Pencitraan Lembaga Lewat Media Massa” SOLOPOS 20-22 April 2009

Banyak uapaya yang dilakukan lembaga untuk mengangkat citra pada publik. Institusi pendidikan pun tak luput dari upaya menarik simpati dengan berusaha membuat citra sebaik mungkin. Paling banyak dilakukan (karena mudah) adalah membangun citra secara visual. Banyak yang sudah mengenakan seragam secara khusus, setup kantor secara eksklusif dan membuat simbol-simbol untuk mengangkat karakter lembaga. Ada pula yang mencoba membangun citra dengan cara verbal. Membuat iklan, talkshow, tulisan di media massa dan bentuk verbal lisan maupun tulisan dengan memanfaatkan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi saat ini.
Simbol citra lembaga sering kali menjadi tujuan akhir, bukan sebuah tonggak awal untuk senantiasa berbuat seperti citra yang sudah dibuat..bahkan..lebih baik lagi. Ambil contoh, akreditasi program studi, yang “akhirnya” menjadi simbol keberhasilan mencapai citra yang diinginkan. Capaian akreditasi dengan nilai A menjadi sebuah tujuan akhir..padahal…seharusnya menjadi titik awal untuk memenuhi janji senantiasa bersikap A pada setiap kegiatan prom studi tersebut.
Capain lebih tinggi yang ingin dicapai institusi pendidikan tinggi saat ini adalah bersanding di peringkat yang diaukui oleh dunia. Salah satu yang banyak digunakan sebagai tolok ukur adalah capaian peringkat webomteric. Segala upaya diilakukan untuk mengangkat peringkat hingga mencapai digit sekecil mungkin. Himbauan semua pendukung institusi untuk senantiasa membantu mendongkrak capaian maksimal ini senantiasa disampaikan. Rapat kerja, workshop, seminar dan entah apa lagi….tapi semua hanya berakhir pada ukapan verbal yang seringkali tidak mengangkat citra, tapi berakhir pada keterpurukan karena salah dalam ber”cerita”. Kesombongan sering menempel bila citra yang kita inginkan telah berhasil kita peroleh. Kita sering lupa citra yang akhirnya melekat adalah AMANAH.
Semakin banyak kita ber”cerita” semakin dekat kita dengan kegagalan membawa CITRA
Posted in rAsan-rAsan | 1 Comment »
March 27th, 2009 by budi legowo
Pagi ini…suara gergaji menderu disamping tempat kuliah. Pembangunan gedung tahap tiga dimulai. Ada kegembiraan…kebutuhan ruang kuliah dan praktik akan segera terpecahkan. Ada kesedihan…pembangunan selalu didahului “pembukaan lahan”.
Diskusi kecil di ruang administrasi…ada dua pohon besar (jati) yang punya potensi menjadi monumen hidup (20 tahun yang akan datang) dirobohkan dengan mengatasnamakan perluasan akses pendidikan. Memang tidak dapat “dihindarkan” pohon tetap harus di”tumbangkan”
Beberapa waktu yang lalu…saat pendirian tower untuk semakin mengoptimalkan layanan IT…di”tumbangkan 3 batang pohon besar. Tepat hari bumi internasional, mahasiswa melakukan orasi ditempat lain, saat gergaji menderu mehapus jejak sejarah berdirinya institusi ini.
Pembangunan itu merupakan keniscayaan, kebutuhan lahan itu sebuah hal yang tidak bisa dihindarkan dan penebangan pohon “penghalang kemajuan” menjadi keharusan. Pertanyaan besarnya, “berapa lagi bangunan akan didirikan dan berapa pohon agi akan ditumbangkan?”. Bukan ini pertanyaan yang harus dilontarkan. Akan terjadi prasangka buruk, saling tuding karena beda pandangan dan tidak ada titik temu sehingga menimbulkan perpecahan. Kalau semua tidak dapat dihindarkan, pertanyaan yang harus kita tanam dalam-dalam di hati kita adalah “berapa pohon yang akan kita hidupkan?”
Banyak pahlawan yang mati karena berjuang untuk kemerdekaan, tapi tidak akan membuat matinya pahlawan-pahlawan baru yang akan lahir setelahnya.
Tiap pohon pasti akan mati (pertanyaannya kapan dan karena apa?) Kalau memang satu pohon harus tumbang…lima paohon lain harus siap kita “hidupkan”. Tidak usah menunggu jadi guru besar untuk menam baca; menghidupkan) pohon di institusi ini. Kalau semu guru mau menghidupkan lima pohon dalam waktu hidupnya, 20 tahun lagi institusi ini tidak akan kehabisan batang pohon untuk dijadikan monumen abadi.
Selamat HARI BUMI …..

Posted in rAsan-rAsan | No Comments »
March 20th, 2009 by budi legowo

“Dengan mengucap istirja’, telah berpulang kepada Allah IKHWAN MAHARDIKA (fisika angkatan 2002) kemarin malam (19 Maret 2009) 22.30 di RSU Purwokerto, karena sakit”.
Pesan pendek dari seorang teman menyampaikan kabar duka setiba saya di kantor. Rasanya belum lama Ikhwan (panggilanya di kampus) datang diantar Bapaknya kekampus karena undangan pantauan capain studi. Ikhwan yang biasanya tampak segar dengan rabut sedikit gondrong, jaket kulit dan kaca mata hitam..hari itu tampak kuyu.. SAKIT.
Berkutat di laboratorium mikrokontroler mengerjakan Tugas Akhir dengan tim yang kompak. Waktu berjalan..semua LANCAR..hingga saat pembimbing TA ‘harus’ melanjutkan studi ke Australia. Ikhwan ikut menghilang, tidak lagi tampak di lab, tidak lgi terlihat dikampus…RAIB!!
Setelah evaluasi akademik, ada teman lain .. yang ‘baik hati’.. menawarkan diri membimbing TA dengan sedikit perubahan topik yang dikerjakan …SANGGUP … tapi setelah PEMILU. Pembimbing yang baru menyusun tim untuk mengerjakan topik serupa..Ikhwan tak terdengar kabarnya. Sehari sebelum meninggal sempat mengirim pesan pendek …tanpa pesan-kosong.. pada pembimbing TA yang baru …PAMIT??
Apa bener TA yang hanya 6 SKS bisa membuat mahasiswa bisa sedemikian tertekan? Sehingga waktu 6 bulan…satu semester…terlalu pendek untukmerampungkannya? Mungkin kita yang kurang memerhatikan mereka, atau barangkali kita lupa bahwa TA seperti layaknya mata kuliah lainya? Kalao ini bernar adanya, perlu dilihat lagi kurikulum dan operasional prosedur pelaksanaan TA…ENTAH//
Ikhwan…semoga mendapat tempat yang layak disisi-Nya…AMIIN
Posted in rAsan-rAsan | No Comments »
March 19th, 2009 by budi legowo

sudah jadi ‘GURU’
Dalam sebuah sesi pelatihan PEERTI-AA untuk mahasiswa D4 kebidanan (Bidan Pendidik) … saya bertanya pada salah seorang perserta … “Siapa nama guru pertamanya?”
Jawaban beragam saya terima dari tiap peserta yang saya tanya,
lupa …. sudah terlalu lama …. bu A … pak B …. …. ….
Coba saya ingatkan lagi pada guru pertama mereka…yang dengan sabar mengajarkan kita bicara, yang dengan dorongan semangat membantu kita belajar berjalan, yang dengan kasih sayang membantu kita mengeja angka dan huruf pertama, yang … yang….
Akhirnya di jawab bersama guru pertamaku adalah ibu - ku
Guru pertama-ku bernama SITI AMINAH
Aku lupa pelajaran pertama yang diberikan, tapi aku tidak yakin apakah aku sudah melakukan semua yang diajarkan dengan baik. Setahuku guru pertamaku tidak pernah memberi nilai jelek. Yang pasti guru pertamaku “hanya memberi dan tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia“.
Posted in rAsan-rAsan | No Comments »
March 13th, 2009 by budi legowo

Selesai juga akhirnya….reakreditasi program studi…mundur dua bulan dari batas habis sertifikat akreditasi B dari BAN PT. Empat tahun mencoba bebenah..tidak cukup waktu..ditambah beberapa polesan untuk menampakan performa terbaik yang bisa ditunjukkan. Waktu yang cukup panjang untuk “mencoba” tertib adminstrasi, rapi struktur proses akademik dan evaluasi sinambung..ditambah “make-up” sebelum dinilai..berharap naik peringkat.. akreditasi A.
Polesan dan make-up ternyata harus dimaknai sebagai janji untuk mewujudkan “sikap A’ di program studi. Akreditasi A bukan lagi menjadi do’a pengharapan tapi menjadi janji untuk senantias memperbaiki tindakan. Untuk terakreditasi A semua civitas akademik harus SIAP ber sikap A. Tidak hanya dua bulan terakhir sebelum borang dikumpulkan tapi proses panjang juga harus dalam sikap A. Dosen mengajar dengan baik seperti amanah UU 20 tahun 2003. Mahasiswa belajar dengan “etika” yang baik, berusaha keras dan belajar mandiri. Dukungan administratip struktural yang profsesional. Semua akan menjadi SUPERTEAM, mengerahkan potensi untuk senantiasa ber-sikap A dalam setiap tindak akademik dan sosialnya.
Jadi malu juga rasanyajika apa yang dilakukan untuk menutupi kekurangan …make-up dan polesan..jadi terlihat banyak orang. Jujur saja..ternyata sulit ber sikap A..ngajar masih seperti tahun-tahun sebelumnya..tanpa silabus dan perencanaan, Ceramah dalam tiap pertemuan dan paper and pencil tes untuk evaluasi keberhasilan peserta didik. Bagaimana akan menuntut peserta didik bersikap A bila kita bukan menjadi inspirasi yang baik bagi mereka. Pendidik menang belajar semalam..pesrta didik menang dalam memberikan alasan. Proses yang dilalui bukan proses untuk menjadi A. Sikap yang kita lakukan bukan sikap A.
Mudah-mudahan ini benar akan menjadi JANJI yang harus DIPENUHI….Selamat untuk teman-teman yang telah mencurahkan waktu, tenaga dan fikiran.
Posted in rAsan-rAsan | 3 Comments »
September 18th, 2008 by budi legowo

Gambar diambil dari: http://ladangkata.com
Penertiban PKL dimanapun tempatnya dan mengatasnamakan kepentingan apapun selalu berakhir dengan bencana (baca: bentrok). Lagi lagi tibul tanya: yang salah penjual atau pembeli. Duluan mana? penjualnya atau pembelinya? Atau karena himpitan ekonomi “memaksa” orang untuk dapat dengan jeli melihat peluang pasar. Dimanapun, dari Taman Kanak-Kanak sampai Perguruan Tinggi, asongan (baca: PKL) selalu mengerubuti, karena potensi banyaknya calon pembeli. Kerumunan orang yang berolahraga diminggu pagi di suatu openspace di tengah kota juga menjadi sasaran untuk sekedar menawarkan es, kaos kaki 1000/3 sampai alat elektronik dan pertukangan. Anehnya saat kerumunan orang bubar karena kepanasan, para pedagang tetap bertahan dengan segala kesederhanaan (dari tenda sampai kios kecil) untuk tetap menunggu SATPOL PP mengusir karena menyalahgunakan fungsi lahan.
Kondisi yang sama terjadi pada sistem transportasi kita. Halte didirikan dimana-mana tapi tidak digunakan. Banyaknya perusahan transportasi dari angkot, metro mini, bis hingga tran… memaksa sopir angkutan umum untuk berebut penumpang. Entah siapa salah, bila diperempatan banyak calon penumpang menunggu bis, padahal kurang dari 100 meter didekatnya ada halte kosong melompong. Siapa salah pula, bila bis berhenti tepat diperempatan jalan (dan mengganggu pengguna jalan yang lain) untuk mengambil penumpang. Mana yang harus dibetulkan, haltenya yang dipindah diperempatan? Calon penumpang dipaksa nunggu di halte? atau angkutan umum ditilang bila tidak mengambil penumpang di halte yang disediakan? Mungkin jadi “peluang” penguasa daerah untuk jeli, membuat moda transportasi dengan nama TRANS … … … di kotanya.
Ini sama halnya bila ditanya: duluan mana TELOR sama AYAM?
Posted in rAsan-rAsan | 3 Comments »
August 19th, 2008 by budi legowo
Bukan rahasia lagi bila rambu larangan hanya berfungsi sebagai pajangan. Rambu hanya berfungsi saat diawasi, saat tidak dilihat semua dapat lewat.
Sebuah kenyataan tidak dipatuhinnya aturan terjadi juga dalam kampus. Kepedulian civitas akademika pada atribut kedisiplinan sangat-sangat rendah. Lambang-lambang peraturan sangat mudah dilihat oleh setiap orang, tapi sangat mudah pula diabaikan. Catat saja: rambu kecepatan 20 km/jam, tapi tidak sedikit yang merasa seperti Valentino Rossi kampus, ngebut tanpa mempedulikan penguna jalan lain. Juga: rambu larangan parkir yang malah menjadi penada nongkrong dan janjian dengan teman.
Rasanya menjadi perlu mengganti perigatan “DILARANG BERJUALAN DISINI” dengan “DILARANG MEMBELI DISINI”
Posted in rAsan-rAsan | 4 Comments »