Pertarungan seorang ‘GURU’

guru

Sumber http://www.antarasumut.com

sebuah cerita…dari pidato dalam sidang senat terbuka diesnatalis UNS ke-33…dengan sedikit penyesuaian

Seorang guru mengabdikan diri dengan menerima murid-muridnya belajar bersama selepas maghrib dirumahnya.  Secara berkelompok murid-murid belajar bersama sang guru. Dengan ikhlas..di sela waktu istirahatnya..sang guru memberi pelajaran tambahan hingga isya’ menjelang.  Selang beberapa saat kegiatan berlangsung..murid yang belajar semakin berkurang. Sang guru heran..apa ada yang salah pada dirinya. Mencoba bercermin mengupas diri. Takada yang keliru..dia tidak memungut biaya atas apa yang dilakukannya membimbing murid di malam hari, tidak pernah sekalipun kata kasar terlontar menghadapi murid yang beragam kepandaian, bahkan..bila berlebih sedikit rizki..roti dan makanan kecil lain seringkali tersaji.  Kenapa….. Salah satu murid akhirnya bercerita bahwa sebagian murid takut belajar tambahan dimalam hari karena sepulang belajar mereka selalu diganggu setan penunggu pohon besar di pinggir kampung.  Sang guru berang…merasa siswanya terganggu haknya untuk meraih cita…akhirnya selepas isya, setelah semua murid pulang.. sang guru mendatangi setan penunggu pohon besar.  Ditantangnya setan berkelahi..karena telah menggangu muridnya..perkelahian seru tak terhindarkan, semangat membela hak muridnya mampu memompa semua kemampuan sang guru hingga dapat mengalahkan setan penunggu pohon besar.  Sang guru MENANG, setan penunggu pohon besar segera akan diusir dari tempatnya tinggal selama ini…seperti dalam cerita yang lain..setan merayu sang guru untuk tetap bisa tinggal di pohon besar.. dia berjanji untuk tidak menggangu murid-murid sang guru dan akan memberikan setumpuk uang dan emas yang akan diberikan esok di bawah tempat tidur sang guru selepas memberi pelajaran tambahan pada muridnya. Karena kebesaran  hati sang guru…setan penunggu pohon besar diampuninya.  Esok malam selepas maghrib banyak murid datang..karena paginya sudah diberitahu, setan penunggu pohon besar sudah kalah dalam pertarungan..untuk belajar.  Raing gembira, suka cita mewarnai suasana belajar mereka. Sang guru merasa sangat bersyukur murid-muridnya dapat belajar tanpa diganggu rasa t akut.Selepas isya’ mereka berpamitan.  Saat akan tidur dan merebahkan diri di pembaringan sang guru tersenyum, teringat pertarugannya degan setan penunggu pohon besar.  Semakin lebar senyumnya mengingat kemenanggannya..TIBA_TIBA…sang guru teringat akan janji setan penunggu pohon besar yang akan memberikan harta kekayaan atas kemenangannya.  Tapi setelah dilihat di bawah pembaringannya ternyata tidak ada satupun emas dan uang seperti yang djanjikan.  Sang guru marah besar…Dasar setan..tukang bohong..penipu…    …..    ….Tanpa berfikir dua kali sang guru mendatangi setan penunggu pohon besar.  Ditagihnya janji setan penunggu pohon besar..karena tetap ingkar akhirnya perkelahian terjadi.  Seru…sengit…   …..   …..Tapi kali ini sang guru tidak beruntung. Nafsu amarah dan keinginan atas harta menutup ketulusan hati membela murid-muridnya seperti pertarungan yang pertama.  Sang guru KALAH……..

Memang berat tugas GURU….

Coba tengok lirik lagu lama, karya Koes Plus “Pak Guru”

abot janjane tugase bapak guru
sakbendinane mbimbing putra-putrine
pancen pak guru kudu sabar atine
bungah lan susah wis dadi tanggungane

ngelingono mbesuk yen kowe mukti
pituture ojo nganti dilalekke

ngelingono mbesuk yen kowe mukti
pituture ojo nganti dilalekke

esuk lan sore penjalukke pak guru
supoyo mulyo kabeh putra-putrine

Sertifikasi menjadi sebuah ‘pertarungan’ tersendiri bagi Guru dan Dosen.  Coba tengok ilustrasi dalam cerita di atas.  Ketulusan pendidik dalam mengemban tugas membimbing siswa menuju harapannya kalah oleh kilau gelimang ‘harta’. Sertifikasi (baca: kenaikan gaji) hampir menjadi tujuan, membutakan ikrar pendidik untuk membawa siswa menuju cita-cita.  Sertifikat profesi menjadi akhir dari perjalanan pendidik dalam karirnya.  Bahkan kegagalan dalam sertifikasi menjadi seperti ‘ingkarnya setan penunggu pohon besar atas janjinya’ yang harus langsung di protes dan di demo.  Kegagalan tidak lagi dijadikan cermin evaluasi untuk lebih mengembangkan diri.

Meningkatnya kesejahteraan pendidik dengan sertifikat profesi tentunya akan menjadi janji untuk selalu berbuat profesional.  Mendidik seperti amanat UU No. 20 tahun 2003.  Kenaikan gaji darisertifikasi hendaknya dijadikan senjata untuk memperkaya kompetensi,  supaya siswa merasakan kenikmatan belajar dalam suasana menyenangkan, aktif dinamis dan dialogis.

Bukan kah Guru (termasuk dosen di dalamnya) adalah PAHLAWAN TANPA TANDA JASA ….atau perlu diganti jadi, PAHLAWAN ‘tanpa menunggu’ BALAS JASA.

Seorang ‘teman’ (yang telah lebih dahulu mendahuli kami) memberi pesan: hendaknya ‘pendidik’ bisa menjadi seprti sang surya, yang HANYA MEMBERI dan TAK HARAP KEMBALI